Industri & Perdagangan

Sambut Mobil Listrik, Daerah Penghasil Migas Harus Siap Tinggalkan BBM

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-
Industri mobil listrik makin gencar digaungkan untuk menuju green energi. Karena itu daerah penghasil Migas, termasuk Provinsi Riau harus bersiap-siap menghadapi penurunan konsumsi minyak. “Memang masa depan itu menuju clean energi dan ramah lingkungan. Dan ini tidak bisa dinafikan,” kata anggota Komisi VII DPR, Abdul Wahid kepada wartawan di Jakarta, Selasa (2/2/2021).

Politisi PKB ini tak membantah kemungkinan konsumsi BBM akan menurun di masa depan terkait populasi kendaraan bermotor berbasis listrik berbasis betere (KBLBB) yang makin banyak. Apalagi Tesla, perusahaan asal AS dan
produsen asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) serta LG Chem Ltd asal Korea Selatan (Korsel) sudah berminta investasi pabrik batere. “Mau tak mau energy fosil harus ditinggalkan, karena ke depan dunia akan berubah,” ujarnya.

Disisi lain, lanjut Wahid, kendaraan berbasis fosil atau BBM menimbulkan efek rumah kaca dan tidak baik untuk kesehatan masyarakat.
Namun begitu minyak ini tetap dibutuhkan untuk memproduksi barang turunan lain, karena minyak merupakan bagian dari industri petrokimia. “Produksi turunannya banyak, salah satunya produk kaca (cermin), juga plastik dan lain-lainnya,” terangnya.

Legislator dari Dapil Riau II ini setuju pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) harus terus dikembangkan, karena memang tidak merusak lingkungan.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendukung penuh Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Indonesia.

Sebab, mobil listrik dapat meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi impor bahan bakar minyak yang selama ini digunakan untuk kendaraan bermotor.

Sebagai informasi, kebutuhan minyak dalam negeri sekitar 1,5 juta barrel/hari. Namun produksi minyak dalam negeri hanya separuh dari kebutuhan. Hal ini menyebabkan Indonesia terus-menerus impor minyak.

“Kekurangannya harus diimpor, sebesar Rp 200 triliun per tahun. Sementara mobil listrik sepenuhnya menggunakan energi domestik seperti batubara, gas, air, ataupun EBT. Kita tidak perlu buang devisa,” kata Erick dalam siaran pers, Sabtu (2/1/2021).

Erick menuturkan, penggunaan mobil listrik lebih ramah lingkungan. Emisi CO2 yang dihasilkan lebih sedikit akan membuat target pemerintah dalam pengurangan emisi gas rumah kaca terwujud.

Sementara dari sisi biaya operasional, penggunaan mobil listrik dinilai lebih efisien. PLN bahkan telah menyiapkan diskon untuk tambah daya dan diskon sebesar 30 persen untuk tarif charging mobil listrik di rumah pada malam hari.

Mobil listrik pun 1/5 lebih hemat dari mobil bahan bakar pada umumnya. Jika mobil berbahan bakar butuh Rp 500.000 untuk bensin, mobil listrik hanya membutuhkan Rp 100.000 untuk jarak tempuh yang sama.

“Hanya seperlima dari mobil BBM, sudah diujicoba oleh Komisaris PLN. (Jarak dari) Jakarta-Bali hanya butuh Rp 200.000-an. Kalau dengan mobil biasa, BBM-nya habis sekitar Rp1,1 juta,” imbuhnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top