Investasi

Proyek KCIC dan Imbas Pandemi Bikin WIKA Ngos-ngosan

Proyek KCIC dan Imbas Pandemi Bikin WIKA Ngos-ngosan
Kompas.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM–Pandemi Covid-19 yang cukup panjang membuat BUMN Karya merasakan imbasnya. Tak hanya itu, penugasan negara yang berat makin menggoyahkan kinerja perusahaan. Salah satu BUMN yang memerlukan suntikan dana, alias Penyertaan Modal Negara (PMN) yakni Wijaya Karya (WIKA). “Dalam tekanan terkait adanya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang membutuhkan permodalan besar sekali dan saat ini WIKA mengalami penurunan pendapatan,” kata Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Kamis (8/7/2021).

Selain itu, lanjut Tiko-sapaan akrabnya, WIKA mendapat tugas mengambil alih tol-tol milik swasta yang tidak berkelanjutan untuk diselesaikan. Hal itu berjalan dari 2015 sampai dengan 2016 dan selama tiga tahun terakhir guna menyelesaikan proyek-proyek ini mulai dari yang di Jawa seperti tol Solo-Ngawi, tol Pejagan-Malang, tol Pemalang-Batang dan sebagainya. “Ini tentunya menyebabkan secara total utang Waskita meningkat tajam,” ungkapnya.

Lebih jauh kata Tiko, kemudian Kementerian BUMN melakukan restrukturisasi menyeluruh terhadap Waskita, ada dua skema support dari pemerintah. “Pertama, Rp15 triliun penjaminan untuk penyelesaian proyek-proyek yang sudah ada dan kedua, untuk modal baru Rp7,9 triliun. “Terutama untuk memperkuat permodalan karena banyaknya modal yang terserap terkait penugasan mengambil tol-tol di masa lalu.”

Diakui Tiko, kondisi BUMN karya saat ini cukup memprihatinkan terutama akibat kombinasi dari dua hal. Pertama, karena ada tekanan pandemi Covid-19 yang berdampak pada kontrak baru dan penjualan. “Seperti kita ketahui pada 2017-2019 memang hampir tidak ada PMN yang diberikan kepada BUMN-BUMN karya yang menanggung proyek strategis nasional,” paparnya.

Selain WIKA, BUMN lain yang juga cukup memprihatinkan akibat kedua pandemi dan penugasan, sehingga membutuhkan PMN antara lain, Pertama adalah Perumnas yang saat ini kondisinya mengalami penurunan pendapatan yang signifikan.

Hal ini karena penjualan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah mengalami perlambatan, sementara inventori Perumnas besar sehingga dengan kondisi inventori yang besar itu rasio utangnya meningkat tajam dan Kementerian BUMN sedang melakukan restrukturisasi. “Namun untuk memastikan neraca maupun kekuatan ekuitasnya memadai kita menginginkan ada tambahan PMN untuk memastikan penugasan Perumnas dalam membangun rumah bagi MBR bisa dilanjutkan secara sustainable,” ujar Tiko.

Lalu untuk Hutama Karya, saat ini memang yang paling berat adalah proyek tol Trans Sumatera di mana sebelumnya telah disampaikan bahwa ada keterlambatan PMN selama dua tahun sehingga kondisi aset meningkat tajam namun ekuitasnya tidak mengejar.

Dengan demikian saat ini untuk melanjutkan penyelesaian Tol Trans Sumatera tahap 1 dibutuhkan total anggaran Rp66 triliun yang akan diberikan secara bertahap di tahun ini, tadi sudah ditambahkan menjadi Rp25 triliun dan pada tahun 2022 diharapkan akan ada Rp30 triliun lagi untuk bisa memperkuat dan menyelesaikan tol Trans Sumatera tahap 1. Kemungkinan sisanya akan diberikan pada tahun 2023.

Sementara itu dari sisi Adhi Karya dan PT Pembangunan Perumahan atau PP dalam kondisi relatif lebih baik. ***

 

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top