Perbankan

Proses Merger, Kang Emil: Bank Banten-Bank BJB Masuk Due Diligence

BANDUNG, SUARAINVESTOR.COM – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil memastikan perintah Presiden Jokowi untuk membantu penyelamatan PT Bank Banten Tbk dengan menggabungkan dengan PT Bank BJB milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih berproses. Saat ini, tahapannya masuk pada due diligence atau uji tuntas.

Menurut dia, proses due diligence perlu dilakukan secara detil mengingat PT Bank Banten dalam kondisi yang pailit. Secara prinsip ekonomi, pembelian bank yang sedang dalam kondisi tidak baik akan jauh lebih murah, namun tetap tidak sesederhana itu.

“(Penggabungan Bank Banten dan Bank BJB) Sedang proses due diligence, jadi apakah secara profesional bisa atau tidak. Kalau bisa pentahapannya seperti apa (sedang dikaji). Tapi, niat baiknya sudah ditunjukan. Kami ingin menolong sesama bank daerah. Sudah diarahkan pak Presiden,” kata dia mengutip situs Merdeka.com saat ditemui di Kabupaten Bandung Barat, Minggu (14/6/2020).

“Pailit, kan harganya murah. Tapi, membeli bank tidak sesederhana itu. Ada kajian. Itu akan mengatur berapa harganya, mengundang risiko atau tidak. Tapi selama ini proses sedang dilakukan,” imbuhnya.

Diketahui, kedua provinsi tersebut memiliki satu bank daerah bernama Bank BJB. Kemudian, di periode tahun 2014-2015, Pemerintah Provinsi Banten ingin memiliki bank sendiri, hingga lahirlah Bank Banten.

Rencana penggabungan kembali dua bank tersebut mengemuka setelah Gubernur Banten Wahidin Halim melakukan pemindahan dana kepada Bank BJB dari Bank Banten. Sebabnya, karena sempat gagal bayar saat diminta mencairkan Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak ke kabupaten/kota di provinsi Banten pada 17 April 2020. Anggaran DBH Pajak yang akan dicairkan mencapai Rp181 miliar dan untuk dana bansos sebesar Rp709 miliar.

Hal tersebut yang mendasari Pemprov Banten untuk segera memindahkan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) dari Bank Banten ke BJB. Tindakan ini, tuturnya, sebagai langkah cepat untuk memastikan ketersediaan anggaran saat dibutuhkan.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, berdasarkan laporan keuangan Bank Banten dalam dua tahun terakhir tidak dalam kondisi baik. Pada 2019 bank tersebut mencatatkan rugi bersih Rp180,7 miliar. Setahun sebelumnya, rugi Rp131,07 miliar.

Sejak 2016, bank dengan saham berkode BEKS ini belum pernah sekalipun mencetak laba. Kerugian terus membesar. Pada Desember 2016, bank membukukan rugi bersih senilai Rp405,1 miliar.

Pada 2019, modal inti perseroan pun terkikis dari Rp334,07 miliar pada 2018 menjadi Rp154,13 miliar pada 2019. Rasio permodalan Bank Banten pun tercatat mengalami penurunan ke level 9 persen.

Rencana penggabungan usaha PT Bank Banten) ke dalam PT Bank BJB itu mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Gubernur Banten Wahidin Halim selaku Pemegang Saham Pengendali Terakhir Bank Banten dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil selaku Pemegang Saham Pengendali Terakhir Bank BJB menandatangani Letter of Intent (LoI) pada Kamis (23/4/2020).

Sumber: Merdeka.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top