Opini

Prabowo Cari Wapres Dari Warga NU?

Uchok Sky Khadafi/Foto:

*) Uchok Sky Khadafi

Ketua umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto saat ini sangat rajin melakukan konsolidasi politik, tentu dalam rangka mencapres dirinya. Langkah Prabowo ini sangat disambut baik oleh sejumlah elit politik, karena Prabowo satu satunya calon presiden yang tidak punya musuh politik atas pencalonan dirinya sebagai capres.

Makanya Prabowo bebas bertemu dengan siapa saja, atau bahkan bisa menjamu elit politik mana saja yang mau bersilaturahmi. Saat ini, Prabowo seperti Gus Dur zaman tahun 1998-an, bisa bertemu Presiden Jokowi, Ibu Megawati, bahkan sudah bertemu dengan Ketua umum Partai Nasdem Surya Paloh.

Hari ini, Prabowo bertemu dan sekaligus menjamu makan malam Ketum PKB, Muhaimin Iskandar, di Kediaman pribadinya, Jl Kertanegara, Jakarta. Dengan minimnya musuh politik Prabowo, maka ini menandakan bahwa peluang menjadi capres 2024 semakin besar. Tentu berbeda dengan nasib Ganjar Pranowo yang belum jelas. Meski elektabilitas Ganjar tinggi, namun dia dicalonkan partai lain, sementara PDI Perjuangan yang melahirkannya, malah belum respek dan belum mengizinkannya menjadi capres. PDIP masih ngotot menginginkan Puan menjadi capres ketimbang Ganjar Pranowo.

Sementara peluanh Anies Bawesdan maju pilpres 2024 dinilai agak berat. Karena musuh politik Anies terlalu banyak. Hal ini disebabkan cara gara Anies Baswedan dalam memenangkan Pilkada DKI Jakarta dengan membawa politik identitas. Dengan melempar isu-isu agama dan rasis maka membuat publik trauma dan ketakutan terhadap Anies. Meski saat ini Anies sudah diusungkan oleh Partai Nasdem, namun tetap saja peluangnya tetap kecil untuk memenangkan Pilpres 2024.

Tentu berbeda dengan peluang Prabowo memenangkan Pilpres 2024, tetap terbuka lebar. Hanya saja, ada ‘musuh’ yang sangat berbahaya bagi kakak Hasjim Djojohadikusumo ini, yakni “masa lalu”. Kasus penculikan aktivis sampai saat ini belum hilang dan masih tertanam dalam persepsi publik. Bahkan ada sebagian masyarakat yang masih trauma dengan kasus tersebut.

Namun dengan segala keyakinan, Prabowo tetap nekad dan maju terus untuk menjadi capres 2024. Kayakinan itu makin kuat, sebab ditambah dengan dukungan kader Gerindra untuk menjadi Prabowo sebagai Presiden NKRI sesuai dengan “mantra” Gus Dur. Sebab Gus Dur pernah menyebut bahwa Prabowo akan menjadi Presiden ketika sudah usai lanjut.

Banyak orang meyakini bahwa Gus Dur tidak sembarangan menyebut seseorang. Apalagi “dawuh” Gus Dur beberapa kali menjadi kenyataan, boleh percaya atau tidak, terserah saja. Namun ada juga yang menyatakan bahwa pernyataan Gus Dur itu hanyalah sebuah guyonan, alias hanya untuk menyenangkan Prabowo saja.

Tetapi yang jelas, sikap rajinnya langkah Prabowo melakukan konsolidasi politik, terkait hanya untuk mencari wakil presiden saja. Tentu wakil presiden yang “pas” untuk mendampingi Prabowo adalah tokoh tokoh dari kalangan NU, misalnya Cak Imin, Khofifah Indar Parawansa dan kader NU luar Jawa, misalnya Andi Jamaro Dulung.

Salah satu pertimbangan mencari Wakil Presiden Prabowo harus dari kalangan NU, adalah ada pengalaman Prabowo dan Partai Gerindra yang selalu kalah dalam Pilpres. Hal ini karena wakilnya bukan kalangan tradisional alias warga NU. Makanya pertemuan antara Muhaimin dan Prabowo sepakat melakukan kerjasama politik, yakni antara Gerindra dan PKB.

Dalam bahasa politiknya, kalau sudah ada kerjasama, berarti sudah ada pertunangan antara Prabowo dengan Muhaimin. Dengan kata lain, Prabowo sudah melamar Muhaimin agar mau menjadi Wakil Presidennya. ***

*) Direktur Eksekutif Center For Budget Analysis (CBA)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

BERITA POPULER

To Top