Market

Posisi Rupiah Tertekan Jadi Rp13.152

kompas.com

JAKARTA-Ada tren kenaikan dolar AS di tengah kekhawatiran pasar terhadap keputusan bank sentral Amerika Serikat yang bisa mengecewakan investor. Akibatnya, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Rabu pagi bergerak melemah sebesar 25 poin menjadi Rp13.152 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.127 per dolar AS. “Walaupun peluang kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Fed fund rate) hanya 20 persen, secara umum masih ada kekhawatiran di pasar,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Rabu (21/9/2016).

Lebih jauh kata Rangga, pergerakan rupiah masih relatif stabil. Sentimen mengenai pencapaian uang tebusan amnesti pajak yang terus meningkat cukup mendukung daya tarik aset berdenominasi rupiah ditambah dengan harapan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Repo Rate pada pekan ini. “Sentimen dalam negeri yang positif, masih ada peluang bagi rupiah untuk kembali menguat,” ujarnya.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova menambahkan bahwa fluktuasi rupiah masih bergerak di kisaran sempit menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). “Jika melihat data ekonomi AS yang dirilis terutama tenaga kerja yang masih melambat, ada potensi bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunganya, kondisi itu dapat membalikan arah rupiah untuk terapresiasi,” katanya.

Kemarin Selasa sore, rupiah bergerak menguat tipis sebesar empat poin menjadi Rp13.125 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.129 per dolar AS. Fluktuasi rupiah bergerak di kisaran sempit menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), sebagian investor yang optimis bank sentral AS belum menaikan suku bunga membuat rupiah terapresiasi meski terbatas.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova di Jakarta, Selasa mengatakan fluktuasi rupiah bergerak di kisaran sempit menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), sebagian investor yang optimis bank sentral AS belum menaikan suku bunga membuat rupiah terapresiasi meski terbatas. “Peluang The Fed menaikan suku bunga masih belum pasti, namun jika melihat data yang dirilis terutama data tenaga kerja yang masih melambat, ada potensi bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunganya,” katanya

Dari dalam negeri, lanjut dia, investor juga sedang menanti arah kebijakan Bank Indonesia. Sedianya BI juga akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 September 2016.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa investor saat ini masih hati-hati dengan dolar AS menjelang pertemuan kebijakan bank sentral AS dalam FOMC. “Belum adanya kepastian dapat membuat sentimen terhadap dolar AS masih rapuh,” katanya.

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Selasa ini mencatat nilai tukar rupiah bergerak menguat menjadi Rp13.142 dibandingkan hari sebelumnya (19/9) Rp13.164. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top