Headline

Petrokimia Janji Beli Produksi “Smelter” Freeport

JAKARTA-Petrokimia Gresik menegaskan berkomitmen mendukung rencana pembangunan pabrik pengolahan mineral PT Freeport Indonesia (PTFI) di kawasan industri Petrokimia Gresik. Bahkan siap menyerap asam sulfat hasil samping pengolahan mineral PTFI. “Sehingga secara tidak langsung PTFI turut berperan dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional,” kata kata Direktur Utama PT Petrokimia Gresik (PG) Nugroho Christijanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Dikatakan Nugroho, pihaknya terus mendorong pembangunan pabrik pengolahan mineral atau “smelter” PT Freeport Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional, khususnya melalui penyediaan pupuk bersubsidi. “Karena hasil samping pengolahan mineral, yaitu asam sulfat dapat dimanfaatkan oleh perusahaan sebagai bahan baku pupuk NPK,” ujarnya.

Sebaliknya, tambahnya, asam sulfat jika tidak diolah lebih lanjut dapat berpotensi menjadi limbah yang penangannnya cukup sulit dan bisa berdampak terhadap lingkungan.
“Namun, hal ini tidak akan menjadi masalah jika proyek smelter dibangun di kawasan industri Petromia Gresik,” ucapnya.

Dia berpendapat bahwa rencana proyek smelter PTFI, dengan kapasitas hasil samping asam sulfat sebesar dua juta ton per tahun, di kawasan industri PG berpotensi untuk dapat dioptimalisasikan dan diintegrasikan dengan pabrik smelter eksisting milik PT Smelting. Berdasarkan Perjanjian Sewa Tanah antara PG dan PTFI pada Juni 2015, PG bertanggungjawab atas penyediaan lahan seluas 80 hektare untuk proyek smelter PTFI. Saat ini, lahan tersebut telah tersedia, baik dari aspek teknis maupun legalitas.

Selain lahan, PG juga memiliki insfrastruktur pendukung, seperti pelabuhan untuk membongkar peralatan berat, ketersediaan pasokan air industri melalui proyek peningkatan kapasitas air, dan berbagai sarana pendukung lainnya yang sudah tersedia. Keberadaan proyek smelter PT.FI juga dipastikan dapat memberikan efek sampingan seperti serapan tenaga kerja, baik ahli ataupun kasar, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), dan berbagai manfaat positif lainnya. Dampak ini pun tidak hanya dapat dirasakan oleh masyarakat Gresik, tetapi juga masyarakat Jawa Timur pada umumnya. “Ketersediaan lahan, legalitas, lengkapnya infrastruktur, kepastian serapan hasil samping, serta besarnya efek samping, adalah poin penting untuk mempercepat proses pembangunan smelter yang diperlukan oleh PTFI,” tutur Nugroho.

Saat ini PG memiliki kapasitas total produksi mencapai 7,73 juta ton per tahun yang terdiri dari produksi pupuk sebesar 4,44 juta ton per tahun dan non-pupuk (amoniak, asam sulfat, asam fosfat, gypsum) sebesar 3,29 juta ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, salah satu bahan baku yang dibutuhkan adalah asam sulfat. Selama ini PG telah memanfaatkan asam sulfat hasil samping smelter PT Smelting sebesar 980 ribu ton per tahun. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top