Industri & Perdagangan

Perusahan Baja Di Pasuruan Produksi Cangkul Lokal

JAKARTA-Pabrik baja milik PT Krakatau Steel di Pasuruan melalukan uji coba produksi high carbon steel guna membuat cangkul lokal. Oleh karena itu untuk memproduksi pacul 10 juta unit butuh bahan baku baja high carbon steel sekitar 15.000 ton. “Setiap potong cangkul membutuhkan baja sebanyak 1,5 kilogram baja,” kata Direktur Utama PT Krakatau Steel Sukandar di Jakarta, Senin (21/11/2016).

Pemerintah menghentikan impor cangkul, karena itu menugaskan tiga Badan Usaha Milik Negara yakni PT Krakatau Steel Tbk, PT Boma Bisma Indra (BBI) dan PT PPI untuk memproduksi dan mendistribusikan pacul berkualitas bagi petani. “Kami harapkan produksi sudah bisa terealisasi dalam waktu dekat,” ujarnya tanpa memastikan.

Sukandar menyebut Krakatau Steel sejak 90-an telah memasok bahan baku baja untuk produksi cangkul kepada PT BII. Namun ia mengakui jumlahnya tidak banyak.

Namun Sukandar menampik anggapan minimnya produksi cangkul di dalam negeri akibat kesulitan bahan baku baja, sehingga pilihannya pemerintah harus membuka keran impor. “Sebenarnya bahan baku cangkul itu, banyak, bisa memakai plat. Baja jenis ini ada banyak di pasaran. Tapi saya tidak ingin menanggapi komentar orang lain,” kilah Sukandar.

Baik Krakatau Steel, PT BBI maupun PT PPI enggan memerinci apa keuntungan yang akan mereka dapat dengan menggarap penugasan pemerintah memproduksi cangkul di dalam negeri ini. Termasuk apakah pemerintah memberikan insentif dan subsidi untuk proses produksi dan distribusi ini. Merekapun tak berani memasang target kapan hasil produksi cangkul penugasan pemerintah bisa dijual kepada petani.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PPI Syailendra menyebut keputusan mengimpor cangkul bukan murni pertimbangan bisnis alias untung rugi lantaran permintaan di dalam negeri sedang berlimpah. “Kami impor cangkul karena mendapat penugasan dari pemerintah,” katanya tanpa merinci siapa yang memberikan penugasan apakah kementerian BUMN, Kementerian Pertanian, atau instansi lainnya.

PPI mendapat izin impor cangkul tidak cuma dari China, tapi juga dari Vietnam. Tapi BUMN trading ini baru memboyong mata cangkul dari China. Belakangan, kuota impor yang berlaku hingga akhir tahun nanti tidak bisa digunakan. Pasalnya pemerintah membatalkan rencana impor cangkul untuk tahap selanjutnya. “Untuk sementara impor cangkul dihentikan. Kebijakan pemerintahnya seperti itu, PPI hanya menjalankan saja,” katanya.

Ia pun enggan memberikan penjelasan saat ditanya apakah kebijakan pemerintah ini menyebabkan kerugian bagi PT PPI. Ia tak mau memberikan perincian apakah perusahaan ini telah membuat kontrak untuk impor cangkul sesuai dengan kuota yang mereka dapat. Sebaliknya Syailendra menampik anggapan PT PPI mendapat untung besar dengan mendapat penugasan impor cangkul dari China. Tanpa menyebut nilai impor cangkul yang mereka kerjakan. Ia hanya menegaskan PT PPI sebatas melaksanakan kebijakan. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top