Market

Peran Perempuan Belum Dilihat Jadi Pendongkrak Ekonomi

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Kalangan perempuan belum dilihat sebagai tenaga pemberdaya ekonomi masyarakat. Karena selama ini paradigma masyarakat masih melihat laki-laki yang dominan memberikan kontribusi terhadap ekonomi keluarga. “Contohnya, ketika nelayan melaut mencari ikan, maka mayoritas kaum laki-laki yang turun ke lapangan, sementara kaum perempuan yang mengolah hasil tangkapan laut di rumah, tidak dilihat,” kata Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), I Gusti Agung Putri Astrid Kartika dalam diskusi MPR bertema “Peran Wanita Dalam Merawat Keberagaman Bangsa” bersama Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat dan Yenny Wahid Direktur Wahid Foundation di Jakarta, Jumat (4/12/2020).

Padahal, kata Astrid, sumbangsih ekonomi kaum perempuan dalam masyarakat nelayan cukup tinggi. “Mereka mengeringkan ikan, mengolah dan menjadikan komoditi tangkapan hasil laut ini jadi siap jual,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Lebih jauh Astrid membeberkan peran perempuan dalam industri pariwisata Bali. Banyak sekali sektor yang tidak bisa mengimbangi percepatan pariwisata ternyata itu diisi oleh perempuan. “Jadi, perempuan itu ternyata mampu meningkatkan kapasitas dalam bidang ekonomi,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan sesungguhnya kaum perempuan bisa memainkan peran yang sangat penting dalam masyarakat yang heterogen. Meskipun masyarakat Indonesia masih menganut budaya patrialis. “Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan ibu itu memegang peranan yang sangat penting di dalam tatanan warga di Indonesia,” terangnya.

Lebih jauh Ririe-sapaan akrab Lestari Moerdijat, bahwa sejarah nusantara telah membuktikan perempuan-perempuan yang luar biasa, mulai dari Laksamana Malahayati. Kemudian ada Ratu Kalinyamat Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dien dan Dewi Sartika sampai dengan perempuan perempuan modern.
“Sebentar lagi Hari Ibu yang banyak sekali pejuang-pejuang perempuan yang meletakkan dasar-dasar, bagaimana perempuan mengambil peran dalam mengawal kebangsaan,” imbuhnya.

Sedangkan, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengatakan perempuan harus lebih berdaya, bahkan banyak hal di dunia ini dengan menggunakan sebutan feminim. “Misalnya, Mother Earth, yakni Ibu bumi. “Tempat semua kita berpijak tempat kita semua ada hidup di dalamnya,” ujarnya.

Jadi, kata Putri Gus Dur, bahkan untuk bumi yang ditinggali ini saja sebutannya menggunakan sebutan feminim. Artinya, sifat-sifat feminim itu jadi sebuah kekuatan besar yang seharusnya juga menjadi daya dorong bagi tumbuhnya masyarakat yang lebih baik lagi. ***

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top