Industri & Perdagangan

Peran BUMN Farmasi Disorot, Mufti Anam Minta Harga Remdisivir Turun

Mufti A N Anam

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Anggota Komisi VI DPR Mufti A N Anam menyoroti peran BUMN Farmasi yang belum memberikan kontribusi maksimal kepada rakyat. Padahal beberapa waktu lalu, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir pada Pebruari 2020 pernah menyebut dengan bersatunya BUMN Farmasi, nanti akan berpengaruh pada produk dan keterjangkauan harga seluruh Indonesia. “Tapi nyatanya hari ini, kami terkejut dengan harga Remdisivir yang dipatok Rp1,3 juta per vial, tentu saja harga ini di luar akal sehat,” katanya dalam rapat dengan pendapat dengan Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir, Direktur Utama PT Kimia Farma Verdi Budidarmo, Tbk., Direktur Utama PT lndofarma Arief Pramuhanto, Tbk., dan Direktur Utama PT Phapros, Tbk Hadi Kardoko di Jakarta, Senin (5/10/2020).

Lebih jauh anggota Fraksi PDIP ini menjelaskan bahwa harga Rp1,3 juta itu tentu masih mahal bagi rakyat kecil. “Kita inikan setiap hari bertemu dengan konstituen, buat makan besok saja, rakyat itu masih susah-tidak tahu apa yang akan dimakan Tapi di tengan Pandemi ini, Remdisivir dijual dengan harga sangat mahal,” ujarnya.

Politisi asal Banyuwangi ini mengkritik keras sikap Direksi BUMN yang menyebut harga obat Remdisivir itu sudah terjangkau. “Tadi Pak Honesti bilang harganya sangat terjangkau, itu terjangkau dalam kantong anda (penjenengan), tapi kalau buat rakyat harganya sangat mahal. Hari ini telah dirilis harganya dari PT Indo Farma sekitar Rp1,3 juta, itu untuk satu kali dosis, jadi kalau 6 kali sampai terapi hingga sembuh, totalnya sekitar Rp7,8 juta. Tentu buat rakyat harga itu sangat mahal,” tambahnya.

Karena itu, lanjut Mufti Anam, DPR berharap agar harga obat tersebut bisa diturunkan lebih dalam lagi. Jadi harga Remdisivir ini bisa terjangkau untuk seluruh masyarakat Indonesia dan Jawa Timur, pada khususnya. “Intinya, Kami minta serius diturunkan,” tegasnya.

Begitupun dengan harga tes Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Adik Kandung Bupati Banyuwani ini pernah mengeluhkan biayanya masih tinggi. “Kami pernah menyampaikan hal ini tapi tidak ditanggapi oleh bapak. Jadi kami minta tolong agar BUMN Farmasi ini bisa menjadi contoh masyarakat, dan menghadirkan PCR yang terjangkau,” terangnya.

Disisi lain, Anam membandingkan peran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan PT Indofarma, dimana BNPB bisa mematok biaya PCR sekitar Rp500.000, namun ternyata Indofarma bilang biaya pokok saja sudah Rp600.000. “Jadi saya tidak bisa membayangkan nanti dijual dengan harga berapa. Tapi kalau BNPB bisa menjual dengan harga 500,000 maka biaya pokoknya bisa lebih murah dari itu. Harapan kami, dengan kerja keras anda, ke depan bisa membuat keterjangkauan atas harga ini,” ucapnya lagi.

Anam juga mempertanyakan obat Remdisivir, yang sudah diimpor tersebut, namun sampai hari ini belum dilakukan uji klinis. Karena itu, uji klinis ini penting dan tetap harus dilakukan. Sehingga jangan sampai menyelesaikan persoalan dengan menambah persoalan baru. “Kalau kita tahu dibanyak negara, Remdisivir ini juga menimbulkan efek negatif, seperti gagal ginjal dan sebagainya. Karena tidak terabsorbsi dengan baik dalam tubuh,” pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top