Industri & Perdagangan

Pengusaha: Perlu Komite Percepatan Pemulihan Perekonomian

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Presiden Joko Widodo diminta membentuk Komite Percepatan Pemulihan Perekonomian Nasional (KP3N). Alasannya pasca berakhirnya wabah virus corona (Covid-19) harus segera dipikirkan sejumlah langkah untuk menggenjot perekonomian rakyat.

“Komite ini sejogyanya diketuai dari unsur dunia usaha dengan para anggota dari asosiasi atau organisasi dunia usaha, dari unsur pemerintah atau instansi terkait dan unsur perguruan tinggi dan pengamat ekonomi,” kata Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang dalam siaran pers, Senin (11/5/2020).

Lembaga ini, kata Sarman, memiliki tugas untuk merumuskan, langkah, strategi, program serta kebijakan yang akan dilakukan pasca wabah virus corona (Covid-19). Sehingga dunia usaha bisa segera berlari kencang. “Banyak pekerja yang menjadi korban PHK dan dirumahkan berdampak pada turunnya pendapatan masyarakat dan akan berpengaruh terhadap daya beli atau konsumsi rumah tangga,” ujarnya.

Sebaiknya, Komite ini bekerja langsung di bawah koordinasi Presiden. Alasannya, jika di bawah koordinasi Menteri dikhawatirkan berjalan lambat. “Bisa muncul ego sektoral dari masing-masing intansi yang membuat kinerja komite ini lamban. Semoga usulan ini mendapat respon yang positif dari Presiden,” tutunya.

Usulan pembentukkan komite tersebut berawal dari kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 yang turun drastis sebesar 2,97 persen, jauh dari harapan pemerintah yang punya ekspektasi di atas 4 persen.

Penurunan ini sebagai dampak Covid-19 yang membuat konsumsi rumah tangga turun menjadi 2,84 persen yang normalnya tumbuh di atas 5 persen.

Kemudian, momen Idul Fitri tahun ini yang merupakan puncak perputaran uang terbesar di Indonesia, seharusnya dapat memicu pertumbuhan ekonomi kuartal II. “Bahkan aliran uang warga kota dari Jabodetabek ke daerah tujuan mudik yang selama ini cukup tinggi, diperkirakan akan turun 80 persen,” paparnya

Lebih jauh kata Sarman, bila pandemi ini masih panjang, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat berat dan pemerintah memiliki skenario yang sangat ekstrim turun diangka minus 0,4 persen. “Jika ini terjadi maka krisis ekonomi sudah di depan mata dan pemerintah harus memiliki grand desain langkah apa yang harus dilakukan untuk mempercepat aktivitas bisnis bergairah yang akan memicu naiknya konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top