Industri & Perdagangan

Pemerintah Diminta Tertibkan Pungli Berbungkus Regulasi pada Ekspor Furnitur

JAKARTA -Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto meyakini target perolehan 5 miliar dollar Amerika Serikat dari ekspor furnitur untuk 3,5 tahun ke depan dapat tercapai, asalkan hambatan-hambatan terhadap nilai ekspor furnitur dan kerajinan (craft) dari kayu dan rotan bisa dihilangkan. Salah sati hambatannya adalah di sektor regulasi yang terkadang dibuat justru untuk mempersulit ekspor.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto saat menyampaikan laporan pada Pembukaan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) Tahun 2017, Sabtu 11 Maret 2017 di Jakarta International Expo (JI-Expo) Kemayoran, Jakarta Pusat. IFEX 2017 dibuka Presiden Koko Widodo dan dihadiri menteri-menteri terkait Kabinet Kerja.

Soenoto menjelaskan HIMKI yang sebagian besar anggotanya merupakan pengusaha UKM yang berasal dari berbagai daerah mengeluhkan berbagai macam regulasi yang menghambat. “Kita juga harus terus memangkas regulasi-regulasi. Oleh karena itu HIMKI mengundang Menteri Dalam Negeri supaya aturan-aturan di daerah tidak diplintir-plintir, ada pungli yang dibungkus dengan regulasi,” ungkap Soenoto.

Regulasi-regulasi yang menghambat tersebut tidak hanya berada di Kementerian Dalam Negari. Oleh karena itu, HIMKI ingin menyampaikan berbagai masalah tersebut kepada menteri-menteri terkait. Dia meyakini jika permasalahan tersebut sudah bisa dihilangkan maka terget nilai ekpor 5 miliar dollar AS tersebut akan terwujud.

Sebagai gambaran, Soenoto menjelaskan nilai ekspor furnitur dan kerajinan pada tahun 2015 mencapai USD 2,6 miliar. “Saya pertaruhkan, kalau 3,5 tahun lagi, USD 5 miliar tidak tercapai. Saya mundur jadi ketua umum HIMKI,” ucap Soenoto.

Dia mencontoh Vietnam sebuah negara yang baru merdeka pada tahun 1976 dengan jumlah penduduk hanya 2/6 dari jumlah penduduk Indonesia dan luas wilayahnya hanya 1/6 luas wilayah Indonesia memiliki nilai ekspor furnitur sebesar 6 miliar dollar AS.

“Ini memalukan sekaligus memilukan. Tapi kami, khususnya dari HIMKI yakin 1000 persen dengan Presiden Jokowi, Menteri Perindustrian-nya Pak Airlangga Hartarto. Insya Allah target USD 5 miliar akan tercapai,” ujar Soenoto.

Menanggapi keluhan dari KIMKI tersebut, Presiden Joko Widodo dalam sambutannya mengatakan bahwa pertemuan antara asosiasi, menteri-menteri, bahkan dengan dirinya selaku Presiden memang perlu dilakukan.

“Saya kira masalah-masalah itu akan kita selesaikan dengan baik. Tanpa ketemu, terutama pelaku-pelaku usaha, saya kira sulit kita mencarikan solusi,” kata Presiden.

Hal ini diakui Presiden karena memang masih banyaknya masalah dan problem yang menghambat pelaku usaha sehingga perlu dicarikan solusi, termasuk pemberian insentif bagi industri di tanah air. “Itulah yang sedang kita proses, kita lakukan, ada yang sudah (diperbaiki). Hal berkaitan produksi, produktivitas, dan ekspor, inilah yang akan terus kita dorong,” ucap Presiden.

Guna mewujudkan nilai ekspor furnitur dan kerajinan mencapai USD 5 miliar, Presiden beejanji akan segera dilakukan pertemuan antara Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Menteri BUMN, dan Kepala Bekraf pada pekan depan. “Akan kita kumpulkan, agar nanti yang disampaikan ketua HIMKI, masalah yang berkaitan dengan SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu). Hambatan perpajakan nanti akan kita bicarakan dan selesaikan,” ujar Presiden.

Pertemuan ini perlu cepat dilakukan mengingat industri furnitur dan kerajinan ini menggunakan bahan baku 100 persen dari Indonesia, menyerap banyak tenaga kerja dan produknya berorientasi ekspor yang menghasilkan devisa. “Ini tiga hal penting di industri ini, mebel dan kerajinan,” ujar Presiden.

Mengenai pamerannya sendiri, Presiden menyampaikan bahwa pelaksanaan pameran tahun ini telah berubah dibandingkan tahun lalu, termasuk adanya seleksi dari peserta pameran.

“Desain-desain produk yang ada di dalamnya baik rotan, kayu, bambu, besi, metal semuanya kelihatan sekali sudah berubah. Ini memang harus karena perubahan global cepat sekali. Kalau enggak bisa mengikuti, ya ditinggal,” ucap Presiden.

Setelah adanya perubahan desain, hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara memasuki pasarnya. “Apakah harga-harga kita bisa berkompetisi?” ucap Presiden.

Pesaing pengusaha funitur Indonesia dalam pasar ekspor furnitur ini adalah pengusaha furnitur asal Vietnam dan Malaysia. “Saya kira dengan desain-desain yang baik seperti ini kita bisa meningkatkan (ekspor),” kata Presiden.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara ini, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan. (har/TKP)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top