Industri & Perdagangan

Pemerintah dan Pengusaha Inggris Minta Karyawan Kembali Ke Kantor

Ilustrasi jalanan London.(files.datapress.com)

LONDON, SUARAINVESTOR.COM- Hampir separuh dari 30 juta pekerja di Inggris telah bekerja dari rumah selama pandemi virus corona (Covid-19) berlangsung. Berdasarkan data statistik negara tersebut, sebanyak 9 juta pekerja lainnya dipaksa cuti oleh perusahaan.

Di tengah penularan kasus yang terus meningkat, para pegawai pun menuntut jam kerja yang lebih fleksibel. Namun, pemerintah setempat serta pengusaha mengharapkan agar para karyawan untuk kembali bekerja di kantor.

Pemerintah dan pengusaha menjadikan kondisi perekonomian di pusat-pusat kota yang masih sepi sebagai pendorong agar para pekerja kembali ke kantor.

Mengutip Kompas.com yang dilansir dari CNN, Sabtu (12/9/2020) hal itu justru membuat para pekerja merasa jengkel. Sebab, mereka merasa tidak dihargai meski sudah bekerja dengan keras meski di rumah.

“Perekonomian membutuhkan orang-orang untuk kembali bekerja di kantor,” ujar Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Rabb seperti dikutip dari BBC.

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson sempat mengklaim perekonomian Inggris mulai bergerak lantaran pekerja mulai kembali bekerja di kantor dalam jumlah besar.

Meski, pernyataan tersebut tidak didasari dengan bukti data yang jelas.

Di sisi lain, media-media Inggris menyatakan pusat-pusat kota Inggris justri terlihat seperti kota hantu lantaran para pekerja yang enggan untuk kembali ke kantor.

“Kota Hantu Inggris harus kembali bekerja dan Boris Johnson harus memimpin hal itu,” ujar Carolyn Fairbairn pimpinan Konfederasi Industri Inggris dalam sebuah headline kolom di surat kabar setempat.

Salah satu menteri yang tidak disebutkan namanya pun mengeluarkan pernyataan yang tak kalah bombastis.

Kembali bekerja atau pekerjaan Anda akan hilang,” ujar menteri tersebut seperti dikutip dari The Telegraph.

Perdebatan mengenai kondisi bekerja yang harus kembali ke kantor atau tetap bekerja dari rumah pun terus bergulir.

Anggota Kebijakan Kesehatan, Keselamatan & Kesejahteraan Kongres Serikat
Pekerja Inggris Shelly Asquith menilai, perdebatan tersebut sebagai sebuah ajang salih menyalahkan.

Menurut dia, ada pandangan yang menganggap para karyawan bahwa yang bekerja di rumah tak benar-benar bekerja.

“Terdapat beberapa upaya dari pihak-pihak tertentu di media massa untuk menyatakan orang-orang yang bekerja di rumah tidak benar-benar bekerja,” ujar dia.

“Dan banyak pihak tidak memahami, orang-orang telah berupaya untuk bekerja dengan keras selama lockdown,” tambah Asquith.

Kondisi yang dialami oleh pekerja Inggris pun terjadi di beberapa negara lain di dunia. Di Amerika Serikat, sebanyak 42 persen pekerja bekerja dari rumah.

Namun demikian, anggapan mengenai bekerja dari rumah di Inggris berbeda dengan beberapa negara lain di Eropa.

Pada bulan April lalu, Menteri Keuangan Jerman menyatakan, pihaknya memberi izin bagi para karyawan untuk bekerja dari rumah hingga waktu yang tidak ditentukan.

Di Perancis, pemerintah setempat masih meminta para pekerja untuk bekerja dari rumah. Di sisi lain, pemerintah spanyol pun bakal memberi hak kepada pekerjanya untuk bekerja dengan jam kerja yang fleksibel.

Sementara di Spanyol, Pemerintah juga meminta agar pengusaha turut serta menambal ongkos bekerja dari rumah para pekerjanya. ***

Sumber: Kompas.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top