Headline

Pebruari 2017, Utang Pemerintah Capai Rp3.589 triliun

JAKARTA-Kementerian Keuangan mengungkap jumlah utang pemerintah hingga Februari 2017 mencapai Rp3.589,12 triliun. Porsi utang itu terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) Rp2.848,80 triliun (79,5 persen) dan pinjaman Rp735 triliun (20,5 persen).

Demikian keterangan pers tertulis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko yang diterima di Jakarta, Senin.

Dibandingkan bulan sebelumnya, utang Pemerintah Pusat pada Februari 2017 secara neto meningkat Rp39,95 triliun (1,13 persen), berasal dari kenaikan SBN neto Rp33,09 triliun dan bertambahnya pinjaman Rp6,86 triliun. Penambahan utang neto pada 2017 sampai dengan Februari mencapai Rp122,16 triliun yang berasal dari kenaikan SBN sebesar Rp114,97 triliun dan bertambahnya pinjaman sebesar Rp7,19 triliun.

Pembayaran kewajiban utang dalam Februari 2017 mencapai Rp32,19 triliun, yang terdiri dari pembayaran pokok utang yang jatuh tempo senilai Rp22,45 triliun dan pembayaran bunga utang sebesar Rp9,74 triliun. Indikator risiko utang pada Februari 2017 menunjukkan bahwa rasio utang dengan tingkat bunga mengambang (variable rate) tercatat sebesar 12 persen dari total utang. Sedangkan dalam hal risiko tingkat nilai tukar, rasio utang dalam mata uang asing terhadap total utang mencapai kisaran 42 persen. Sementara itu, Average Time to Maturity (ATM) obligasi Pemerintah mencapai rata-rata sembilan tahun, dengan utang jatuh tempo dalam lima tahun sebesar 69,5 persen dari total outstanding.

Sebelumnya, Bank Indonesia dalam Statitistik Utang Luar Negeri Indonesia (16/1/2017) mengumumkan utang luar negeri turun 7,2 miliar dolar AS menjadi 316,0 miliar dolar AS per November 2016 dibandingkan akhir Oktober 2016 yang sebesar 323,2 miliar dolar AS, menurut laporan Bank Indonesia di Jakarta.

Dalam rilis BI juga mengungkap penurunan utang dipicu perlambatan penarikan utang baik pemerintah dan swasta, maupun utang jangka panjang dan jangka pendek. “Posisi utang luar negeri sektor publik sebesar 154,5 miliar dolar AS dan swasta 161,5 miliar dolar AS.

Utang pemerintah atau publik tumbuh melambat menjadi 12,1 persen (year-on-year/yoy) dari 17,0 persen (yoy) pada Oktober 2016. Sedangkan utang swasta turun lebih dalam menjadi 3,4 persen (yoy), dibandingkan Oktober 2016 yang sebesar 2,0 persen (yoy).

Jika merujuk jangka waktu pengambilan utang tersebut, utang luar negeri berjangka panjang pada November 2016 tumbuh melambat menjadi 3,1 persen (yoy) atau sebesar 274,1 miliar dolar AS. Utang Luar Negeri (ULN) jangka panjang terdiri dari utang sektor publik sebesar 153,7 miliar dolar AS dan swasta 120,4 miliar dolar AS.

Sementara itu, utang berjangka pendek juga tumbuh melambat menjadi 7,1 persen atau menjadi sebesar 42,0 miliar dolar AS, yang terdiri dari ULN swasta sebesar 41,2 miliar dolar AS dan publik 0,8 miliar dolar AS. “Menurut sektor ekonomi, ULN swasta pada akhir November 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,8 persen,” tulis laporan BI. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top