Nasional

Pansus Angket Duga Ada Penyalahgunaan Safe House KPK

JAKARTA- Pansus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Niko Panji Tirtayasa mengunjungi Rumah Sekap KPK di TPA Cipayung, Depok, Jawa Barat dan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (11/8/2017.
Keberadaan Rumah Sekap KPK itu diungkap oleh Niko, yang mengaku menempati rumah milik Yusman dan ditunggui Nanang itu sepanjang Maret 2013 hingga Februari 2015.
“Saya tantang penyidik KPK, NB, dan juru bicara, FD, untuk sama-sama mengklarifikasi ke Pansus KPK. Kapan saja…saya tunggu agar nama kita bisa dibersihkan,” ujar Niko, saksi kasus suap hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar yang ditangani KPK, kepada wartawan di depan Pansus KPK.
Niko merupakan sopir merangkap ajudan Muhtar Ependi, terpidana kasus suap sengketa Pilkada Palembang dan Empatlawang yang ditangani MK. Namanya sempat viral di media sosial setelah dia merekam kemudian menuebarkan video berdurasi 2 menit 40 detik yang dibuat April 2017. Niko mengaku disuruh memberikan kesaksian palsu yang memberatkan mantan Ketua MK Akil Mohtar dan Muhtar Ependi, pamannya sendiri.
Niko mengatakan sejak diamankan KPK dirinya tekah hikang kebebasannya. Bahkan untuk sekedar makanpun dia tidak boleh membeli sendiri tetapi dibelikan oleh penvawal. Begitu juga untuk komu ikasi dengan keluarganya. “Handphone pun saya tidak boleh pegang. Hak asasi saya hilang selama saya diamankan KPK,” katanya.
Usai melihat safe house di Depok, Pansus Angket KPK menyambangi safe house di Kelapa Gading yang menjadi rumah mengamankan Niko. “Untuk rumah di Kelapa Gadung ini, saya yakini dibiayai oleh pemodal, para calon bupati yang kalah dalam pilkada kota Palembang yang dimenangkan Romy Herton,” kata Niko.
Ketua Pansus KPK, Agun Gunandjar Sudarsa, mengatakan kunjungan itu untuk membuktikan keberadaan Rumah Sekap KPK yang dimaksud Niko atau Safe House versi KPK. “Jadi, kami hanya cross check kebenaran kesaksian Miko kepada Pansus,” kata Agun Gunandjar di Depok.
Agun menambahkan akan memanggil pimpinan KPK untuk dimintai penjelasannya atas pengakuan Niko dan fakta-fakta batu yang ditemukan termasuk safe house yang disebut untuk tempat melindungi saksi namun dicurigai hanya dijadikan tempat untuk motif-.motif tertentu.
“Kita akan mintai pertanggungjawaban KPK. Karena itu kita akan penggil pimpinan KPK untuk menjelaskan temuan baru pansus berdasarkan pengakuan Niko dan fakta di lapangan bahwa ternyata safe hiuse atau bisa disebut rumah sekap ini ternyata mrmangbada,” kata Agun.
Anggota Pansus Angket KPK Taufiqulhadi mrngatakan kalau alasannya untuk mrngamankan saksi maka seharusnya harus di bawah LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Morban). “Nah LPSK itulah yang harus menjalankan kewenangannya. Kalau alasannya diamankan timbul oertanyaan alakah diamankan fisiknya atau untuk mencuci otaknya,” kata Taufiqulhadi.
Karena itu, menurutnya undang-undang tidak memberikan kepada lembaga penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan KPK menggunakan safe house untuk mengamankan saksinya. Sebab, khawatir safebhouse justru disalahgunakan oleh para penyidik untuk menekan bahkan mencuci otak saksi mauoun korban.
“Tidak boleh berada di dalam lembaga penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan KPK. Jadi kalau memang diamankannya di sini artinya disekap. Dan ternyata ada tempatnya. Jadi kami krnsini persoalannya bukan mencari safe house atau rumah sekap tetapi ada benda berbentuk rumah seperti disebut saksi Niko. Dan ternyata benar ada,” kata Taufiqulhadi.
Anggota DPR dari Fraksi NasDem ini mengingatkan prosedur dan proses penanganan perkara yang dilakukan oleh lembaga penegakan umum harus dilakukan secara tepat. “Kalau disekap di rumah sekap ini berarti pelanggaran terhadap undang-undang,” tegasnya.

Misterius
Keberadaan Rumah Sekap atau Safe House KPK di RT 03 RW 03 seluas 150 meter itu misterius karena tidak diketahui masyarakat seputar Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Cipayung, Depok.
“Saya ini warga asli, dan pernah menjadi ketua RW, tapi tidak pernah mendengar rumah sekap atau safe house KPK itu,” ujar Ganin, mantan ketua RW 05 berseberangan dengan rumah kosong itu.
Hal senada diungkap Gozali. Ketua RW 03 yang baru setahun menjabat itu mengaku tidak tahu menahu bahkan rumor-rumor rumah misterius yang disewakan Rp 2,5 juta/bulan itu. “Justru saya tahu sekarang ini karena kedatangan wartawan dan anggota DPR dengan dua bus rombongan serta dikawal mobil polisi,” tandasnya. (nto)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top