Industri & Perdagangan

Pangkas Impor, BKPM Gaet Investor Bangun Industri Alkes

bahlil Lahadalia/Kompas.TV

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Penyebaran pandemi Virus Corona atau Covid-19 yang tidak diimbangi kecukupan alat kesehatan (alkes) salah satu penyebabnya adalah karena hampir 90 persen alkes yang ada harus diimpor. “90 persen alat kesehatan kita selama ini dari impor. Karena ini sengaja industri alat kesehatan tidak dibangun,” ungkap Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia saat rapat virtual dengan Komisi VI DPR, Kamis (23/4/2020).

Akibatnya ketika Indonesia menghadapi kasus Covid-19 lalu dilakukan pembatasan ruang gerak barang impor dari luar negeri di hampir semua negara termasuk Indonesia untuk mencegah penyebaran Virus Corona atau Covid-19 membuat aktivitas ekspor-impor terhenti. Dampaknya pasokan alkes dari luar negeripun mandek sehingga berdampak kekurangan alkes untuk penanganan Covid-19. Oleh karena itu, Bahlil mengatakan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), BKPM segera bergerak cepat untuk membangun industri alkes dalam waktu dekat. “Industri dalam negeri sesuai arahan presiden itu, kami cari investor untuk invetasi alat kesehatan. Saat ini sudah ada komunikasi dengan investor dari Korea, Amerika dan Jerman. Sekarang
sedang dikerjakan,” tegasnya.

Bahlil mengatakan saat ini fokus yang dilakukan BKPM adalah bekerjasama dengan semua lintas sektor di lingkup pemerintah untuk bersatu melawan pandemi Covid-19. Karena memang ada  kendala lain yang dihadapi BKPM termasuk juga instansi lainnya adalah tidak adanya database yang mumpuni. “Saya sampaikan BKPM selama ini promosinya mengarang bebas. Artinya
selama ini BKPM itu seperti tiba bekerja saat tiba akal. Karena tidak ada database, tidak tahu potensi apa yang mesti dipasarkan di wilayah masing-masing. Makanya harus pintar karang bebas,” ujarnya.

Papua contohnya, kata Bahlil, sudah bukan menjadi rahasia umum potensi di wilayah ujung timur Indonesia itu adalah sektor pertambangan. Juga di Maluku yang memiliki potensi besar di sektor perikanan. “Tapi database-nya nggak ada. Makanya saat ketemu Bu Menkeu kami minta database tentang apa yang kita promosikan di negara lain. Lalu bagaimana mau giring investor kalau database nya nggak punya. Maka tidak heran, kalau selama ini investor malah lebih menguasai masalah,”sebutnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top