Headline

OJK Perkirakan Kredit Perbankan Tumbuh 8,5%

JAKARTA-Pertumbuhan kredit pada kuartal I-2017 diperkirakan sekitar 8,5% secara year on year (yoy). Realisasi tersebut tidak jauh berbeda dalam periode yang sama selama dua tahun terakhir.
Pertumbuhan kredit paling besar disumbangkan oleh kredit modal kerja dan konsumsi. “Mungkin bisa di atas 8,5%, itu yoy (year on year),” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon di Menara Radius Prawiro, di Jakarta, Senin (27/2/2017).

Selain itu, OJK juga mengungkapkan alasan meningkatnya rasio kredit bermasalah alias Non Performing Loan (NPL) di awal tahun ini. Tingginya rasio NPL disebabkan masih belum pulihnya pertumbuhan kredit yang membuat penghitungan NPL naik.
“Ini karena kredit agak menurun, sehingga pembaginya lebih kecil. Jadi, hasilnya NPL lebih besar,” jelas Nelson.

Banyak tantangan yang akan dihadapi OJK untuk mendongkrak pertumbuhan kredit di tahun ini. OJK menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 10-12% hingga akhir 2017 mendatang.

Lebih jauh Nelson menambahkan suku bunga kredit sepanjang 2016 tercatat hanya turun 79 basis poin (bps) atau 0,79%. Padahal Bank Indonesia (BI) sudah melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate hingga 4,75%. “Mungkin agak melambat saja semangat penurunan suku bunga kreditnya jadi agak tertahan,” ujarnya

Nelson berharap, suku bunga kredit tidak mengalami kenaikan mengikuti tren suku bunga acuan AS. Ia berharap suku bunga kredit mengalami tren penurunan.

Penurunan suku bunga kredit tahun ini diprediksi akan semakin sulit, bahkan tidak sebanyak tahun 2016 lalu sebesar 0,79%. Pasalnya, dengan kenaikan suku bunga acuan AS membuat likuiditas bank ketat karena adanya potensi kaburnya dana asing di instrumen keuangan. “Kita akan terus berusaha untuk itu tapi kelihatannya tidak semudah waktu kita kemarin tahun 2016,” imbuh Nelson.

Nelson menambahkan, suku bunga kredit untuk korporasi saat ini sudah berada di bawah 10%. Namun untuk kredit lainnya seperti kredit mikro dan kredit kecil masih double digit. “Sekarang kalau untuk korporasi sudah single digit. Mikro sama kredit kecil mungkin masih (tinggi),” pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top