Headline

OJK : Mencemaskan, NPL BPR Jatim Capai 8%

SURABAYA-Otoritas Jasa Keuangan meminta pengurus BPR senantiasa memantau secara ketat perkembangan kualitas kredit/pembiayaan yang disalurkan dan khusus untuk BPR yang rasio NPL atau rasio kredit macetnya telah lebih dari 5 persen. Tentu saja hal itu patut dicermati. “Meskipun terdapat peningkatan penyaluran kredit, potensi risiko kredit BPR masih cukup tinggi mengingat rasio NPL (non performing loan) yang melebihi benchmark 5 persen, yaitu sebesar 8,09 persen,” kata Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur Heru Cahyono di Surabaya, Selasa, (12/12/2017).

Berdasarkan data OJK, kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jatim belum cukup memuaskan. Pertumbuah asetnya masih rendah, yaitu sebesar 2,73 persen dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10,27 persen (year on year) dan pertumbuhan kredit atau pembiayaan sebesar 6.70 persen (year on year).

Selan itu, Heru juga minta agar manajemen BPR segera menyusun langkah-langkah penyelesaian dalam sebuah rencana tindak (action plan) yang realistis. “Selain tekanan risiko kredit, tantangan yang dihadapi oleh industri perbankan juga berasal dari pengembangan teknologi informasi di industri jasa keuangan khususnya pada model alternatif pembiayaan baru yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan berbasis teknologi informasi seperti FinTech,” ujarnya

Menurut Heru, tantangan BPR semakin besar, makanya ke depan BPR harus memiliki bekal yang lebih baik. Permodalan yang kuat dan tata kelola yang baik menjadi kunci penting menghadapi kompetisi.

Merespon hal tersebut, OJK sebagai regulator telah mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi BPR dan POJK Nomor 5/POJK.03/2015 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum dan Pemenuhan Modal Inti Minimum BPR.

Selain itu OJK juga mengeluarkan POJK No.19/POJK.03/2017 tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan BPR dan BPRS dengan tujuan untuk menjembatani antara status pengawasan BPR dari pengawasan normal menuju pengawasan khusus agar kondisi BPR yang mengalami penurunan kinerja dapat terdeteksi dan memperoleh tindakan pengawasan yang terstruktur.

Saat ini, OJK Kantor Regional 4 Jatim, melakukan pengawasan sebanyak 115 BPR. “Di tengah berbagai dinamika perekonomian global yang masih mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia ke depan, ekonomi Jatim pada triwulan III 2017 masih menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, yaitu tumbuh sebesar 5,16 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 4,93 persen,” ungkap Heru.

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, sektor keuangan di Jawa Timur mencatatkan kinerja yang positif, tercermin dari peningkatan volume usaha perbankan yang mencapai sebesar 11,78 persen (yoy).

Sementara itu, DPK dan kredit perbankan di Jawa Timur masing-masing tercatat tumbuh sebesar 12,86 persen dan 8,61persen (yoy). ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top