Nasional

MPR: Jangan Sampai Ada yang Bilang NKRI Itu Bid’ah

JAKARTA, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) sangat khawatir dengan perkembangan remaja zaman now, akibat gencarnya pengaruh dan ancaman global yang bisa menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Maka ke depan jangan sampai ada sekelompok masyarakat yang bilang NKRI itu bid’ah, mengada-ada dan apalagi kafir,” tegas Hidayat Nur Wahid dalam sosialiasi 4 pilar MPR RI dengan FPRJ (Forum Peduli Remaja Jambi) di Jambi, Selasa (19/12/2017).

Hadir antara lain Wagub Jambi H. Fahrori Umar, anggota MPR RI FPKS H. Sidi Hermanto Tanjung, Ketua FPRJ Johanes Auri, dan lain-lain.

Karena itu kata Hidayat, sosialiasi 4 pilar MPR RI dibutuhkan untuk mengingatkan kembali anak-anak muda dan khususnya remaja Indonesia ini terhadap sejarah bangsanya, agar tidak lupa dengan perjuangan founding fathers, para ulama, dan negarawan yang mewariskan NKRI.

Yaitu, bangsa yang ber-Pancasila, berdasarkan UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI. Bangsa yang beragam, tolerans, menghargai dan menghormati satu sama lain dengan hidup damai untuk kesejahteraan bersama.

Dengan demikian lanjut Ketua Majelis Syuro PKS itu, di satu sisi sosialisasi ini perlu terus disosialisasikan untuk mengingatkan, mengenal dan memahami berdirinya sejarah bangsa ini. Sebab, kalau tidak, maka tak akan sayang pada NKRI.

“Kalau mengenal sosialiasi 4 pilar ini, maka akan makin menyintai, menyayangi, dan merawat NKRI. Apalagi kini berkembang dua kelompok; yaitu phobia Islam dan phobia NKRI. Sehingga jangan sampai ada yang bilang NKRI itu bid’ah, dan apalagi kafir,” ujarnya.

Untuk itu pula kata Hidayat, generasi baru ini perlu mengenal arti Hari Bela Negara, yang jatuh pada setiap tanggal 19 Desember. Hari Bela Negara ini ditetapkan dengan Keppres No.8 tahun 2006. “Pentingnya hari bela Negara juga mengingatkan dan menyegarkan kembali akan perjuangan para pejuang bangsa ini untuk lepas dari penjajahan Belanda,” ungkapnya.

Dimana sampai tahun 1949 Belanda tidak mengakui NKRI, melainkan membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Tapi pada 3 April 1950 itu ditolak keras oleh Mokhamad Natsir dan kembali ke UUD 1945 pada 5 Juli 1959.

Karena itu Hidayat meminta masyarakat tidak sampai ada yang menyebut NKRI itu bid’ah dan apalagi kafir, karena kemerdekaan bangsa Indonesia ini berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, merupakan warisan para ulama dan tokoh bangsa, yang keilmuwan dan kenegarawanannya teruji dan jauh lebih baik dibanding saat ini.

Dengan demikian dalam memilih calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah melalui pemilu dan pilkada, Hidayat berharap masyarakat tidak asal pilih, tidak terpengaruh dengan politik uang, dan sembako, melainkan memilih yang amanah, intelektual, berkualitas, negarawan, bermoral, dan siap mengabdi kepada rakyat.

“Kalau orang senang ngaji pasti akan memilih yang bisa mengaji, kalau cinta ilmu pengetahuan pasti akan memilih yang berilmu, dan kalau senang dangdut maka akan memilih pedangdut? Jadi, jangan asal pilih,” pungkasnya.

Sementara itu Fahrori Umar mengatakan pentingnya sosialiasi 4 pilar MPR RI ini untuk meningkatkan cinta NKRI dan nasionalisme yang mulai memudar ini.

“Bahkan nasionalisme dan wawasan kebansgaan itu bisa lenyap akibat pengaruh kultur global. Bahkan 4 pilar MPR RI ini sudah tidak lagi menjadi acuan dan pandangan hidup berbangsa dan bernegara. Hal itu menunjukkan lemahnya nasionalime dan wawasan kebansgaan,” ujarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top