Opini

Model Kepemimpinan Kontingensi dan Implementasi Budaya Organisasi

Model Kepemimpinan Kontingensi dan Implementasi Budaya Organisasi
Qohari Kholil/Foto: Dok Pribadi

*) Qohari Kholil

Teori kepemimpinan situasional (situational leadership theories) menitikberatkan pada para pengikutnya. Pada teori ini menururt Georgeo R. Terry kepemimpinan terdiri dari empat variable: pemimpin, para pengikut, organisasi dan pengaruh-pengaruh sosial, ekonomi dan politik.

Teori situasional berpandangan bahwa kepemimpinan yang efektif dan berhasil tidak ditentukan dari gaya kepemimpinan melainkan dari bagaimana kesiapan dari bawahan dalam mengikuti arahan pemimpin, dan bawahan melakukan apa yang menjadi tugas tertentu (Robbins & Judge, 2015).

Oleh karena itu ada dua hal tentang hubungan yaitu sebagai berikut: (1) apa yang terjadi terhadap perilaku kepemimpinan tentu hal itu merupakan salah satu hasil atau melalui akibat dari situasi itu sendiri dan (2) apa yang terjadi terhadap perilaku kepemimpinan sebagai salah satu terjadinya sesuatu yang menjadi sebab dari adanya situasi tersebut.

Model Kepemimpinan Kontingensi
Model Kontingensi Fiedler, Model kontingensi Fiedler merupakan teori kepemimpinan yang mendapat pengakuan dari kalangan para ahli mengingat teori kontingensi itu sangat luas dan komprehensif dalam penjelasannya pada tahun 1967 (Northouse, 2013).
Fiedler adalah orang yang pertama kai yang memberikan pengembangan terhadap model kontingensi secara komprehensif dalam kajian kepemimpinan.

Menurut pandangan teori kontingensi menjelaskan bahwa pemimpin bisa efektif bilamana ada kesesuaian antara gaya pemimpin dengan sistuasi tertentu (Robbins & Judge, 2015). Teori kontingensi beranggapan bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah proses ketika ingin menjalankan sebuah pengaruhnya sangat berkaitan dengan keadaan dimensi tugas yang dikerjakan oleh suatu kelompok (group task situation).

Ada tiga variabel yang sangat menetukan adanya situasi yang paling utama yang sangat menentukan apakah suatu situasi tertentu bisa memberikan keuntungan tersendiri bagi seorang pemimpin (Blanchard et al., 2006). Fred Edwar Fiedler membagi tiga variabel adalah sebagai berikut : 1). The leader member relationship, 2). The degree of taks structure, dan 3). The leaders positions power (Chemers & Skrzypek, 1972).

Model Kontingensi Hersey dan Blanchard menjelaskan tentang teori kepemimpinan situasional (situasional leadership) kepemimpinan yang efektif dan berhasil tentu sangat ditentukan oleh adanya situasi yang menyenangkan dari kesiapan para pengikut dan bisa menyelesaikan tugas yang menjadi tanggungjwabnya dengan baik (Hersey & Blanchard, 1998).

Fokus dari kepemimpinan situasional itu bagaimana bisa memahami terhadap suatu situasi yang terjadi dimana kepemimpinan itu dilaksnakan. Pandangan ini mengklaim untuk menjadi pemimpin yang efektif tentu yang paling menentukan adalah bagaiaman adanya penyesuaian anatara gaya kepemimpinan denga situasi yang terjadi (PG Northouse, 2013).

Model kepemimpinan pendekatan situasional ini awalnya dikembangkan pada 1969 oleh Hersey dan Blachard akan tetpi beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 1985 telah mengalami perkembangan dan penyempurnaan yang dilakukan oleh Blanchard. Dengan demikian, kepemimpinan pendekatan situasional ini disebut dengan kepemimpinan situasional II.

Model Path-Goal Theory Robert J. House, teori jalur-tujuan pertama kali dikembangkan oleh Robert House. Menurut Stephen Robbis tentang teori jalur-tujuan (Path-Goal Theory) yaitu sebuah teori yang berpandangan akan setiap tugas yang menjadi tanggung jwabnya untuk memberikan dukungan terhadap pengikutnya dalam mmenyelesaikan tugas tersebut untuk mencapai target yang telah ditetapkan, sehingga apa yang dilakukan oleh pengikut sudah mendapatkan hasil yang positif sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari organisasi tersebut (Robbins & Judge, 2015).

Teori jalur tujuan (path-goal Theory) ini menyarankan bahwa apa yang menjadi tugas dari seorang pemimpin itu merupakan suatu bentuk bisa menyiapkan sebuah informasi yang akurat, serta adanya dukungan keterlibatan dari semua aspek, atau dari beberapa sumber daya yang memiliki potensi bagi para bawahannya (follower) untuk mencapai tujuan-tujuan (Robbins & Judge, 2015).

Sedangkan menurut Peter G. Northouse teori jalur tujuan adalah bagaimana yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin di dalam memberikan memotivasi terhadap para pengikut (follower) untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan (Northouse, 2013).

Perlu dipahami bahwa pandangan dari teori jalur-tujuan ini, mengidentifikasi bahwa apa yang seharusnya pemimpin lakukan tentang memberikan arahan dan dukungan terghadap bawahan, tentu hali ini sangat tergantung dari bagaimana hasil analisis tentang hal-hal yang agak sulit dan rumit dalam situasi tertentu.
Implementasi Dalam Budaya Organisasi
Kepemimpinan kontingensi merupakan gaya kepemimpinan yang mengedepankan pada situasi kerja dan budaya organisasi.

Teori ini dikemukakan oleh Frederick E. Fiedler yang menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan yang paling baik ditentukan oleh situasi. Teori ini juga dikenal dengan teori kontingensi kepemimpinan (contingency theories of leadership).

Model kontingensi Fiedler merupakan teori kepemimpinan yang mendapat pengakuan dari kalangan para ahli mengingat teori kontingensi itu sangat luas dan komprehensif dalam penjelasannya pada tahun 1967.
Hofstede membuat kerangka kerja yang berguna untuk memahami pentingnya nilai budaya dalam perilaku organisasi.

Budaya organisasi merupakan sebuah sistem yang dimaknai bersama oleh anggota-anggota yang membedakan suatu organisasi lain. Pengertian mudahnya adalah budaya organisasi merupakan alat untuk menentukan arah organisasi dan mengarahkan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak.

Salah satu contoh budaya organisasi adalah kedisiplinan. Sejauh mana pegawai dapat mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan melaksanakan instruksi yang diberikan kepadanya. Saat ini kedisiplinan sudah menjadi kewajiban di hampir setiap perusahaan. Baik secara offline maupun online seperti yang diterapkan pada saat pandemi ini, kedisiplinan masih perlu terus diterapkan untuk membangun budaya organisasi yang baik.

Dasar budaya organisasi dipengaruhi oleh beberapa aspek, salah satunya adalah konsep kepercayaan. Kepercayaan akan adanya seorang pemimpin yang bisa mengedepankan pada situasi kerja misalnya. Seorang pemimpin yang mampu memahami situasi kerja dan mengenali perilaku yang dikehendaki merupakan pemimpin yang bisa membawa perusahaan ke budaya organisasi yang baik.

Kinerja dan kesuksesan seorang pemimpin tidak hanya bergantung pada kualitas atau metodenya, namun juga pada situasi dimana gaya kepemimpinan itu bekerja. Ada argumen bahwa setiap jenis kepemimpinan diperlukan pada masanya, yang berarti gaya kepemimpinan tertentu diperlukan pada situasi tertentu dan tidak cocok pada situasi lain.

Tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik, melainkan pemimpin akan dikatakan efektif bila gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi yang dihadapi. Situasinya itu bisa terkait karakteristik kelompok ataupun tugas kelompok. Keadaan organisasi akan tidak terkendali bila pemimpinnya tidak bisa memahami situasi saat itu.

Sebuah organisasi akan untung jika memiliki model kepemimpinan kontingensi, salah satu keuntungannya adalah ketika memberikan tugas kepada pengikutnya dan tugas itu sudah terstruktur dan semuanya dijelaskan dengan detail. Pengikut/follower tidak akan terbebani dan akan lebih menghormati pemimpinnya.

Ketika situasinya sudah terkontrol dengan baik maka akan mudah untuk membawa perusahaan ke budaya organisasi yang baik seperti halnya kedisiplinan yang telah disinggung tadi.
Tentu tidak hanya kedisiplinan yang menjadi budaya organisasi.

Membentuk perilaku dengan membantu manajer merasakan keberadaan anda, bukan caper atau cari perhatian yang berlebihan, tapi lebih ke berkontribusi secara positif kepada perusahaan, maka pemimpin akan melihat kinerja kita dan memberikan efek baru pada budaya organisasi.
Karena itu, efektifitas pemimpin ditentukan oleh kesesuaian antara gaya pemimpin dengan keharmonisan situasinya.

Alasan yang menyebabkan gaya kepemimpinan tertentu lebih efektif dalam beberapa situasi berbeda dapat diterangkan melalui harmonis dan tidak harmonis. Misalnya dalam sebuah organisasi perusahaan, dalam situasi yang harmonis, pemimpin menjadi orang yang disukai, memberikan tugas yang jelas dan  mempunyai kekuasaan yang besar.

Dalam kondisi seperti ini jelas semua variable situasi yang baik telah tersedia, jadi pemimpin  harus meningkatkan kewibawaan bagi anggotanya.Jika pemimpin dari sebuah perusahaan tersebut ada dalam situasi organisasi yang harmonis, maka anggotanya akan bersedia mengikuti usaha pemimpin dalam mengarahkan mereka.

Sebaliknya jika sebuah organisasi perusahaan memiliki pemimpin yang tudak disukai,  penjelasan tugas samar-samar dan kekuasaan lemah, maka itu merupakan situasi yang tidak harnonis.

Dalam keadaan seperti ini, pemimpin dalam organisasi sebuah perusahaan harus memusatkan perhatian pada pekerjaan dan mengarahkan anggota dengan mempergunakan pengaruhnya sebagai pemimpin yang memiliki kewenangan untuk hal tersebut. (R. Wayne Pace dan Don F. Faules. 2005).

*) Mahasiswa Magister Manajemen SDM Universitas Trilogi Jakarta

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

BERITA POPULER

To Top