Market

Minat Baca Buku Turun, Gus Aam Dorong Literasi Digital Ke Millenial Digenjot

Minat Baca Buku Turun, Gus Aam Dorong Literasi Digital Ke Millenial Digenjot
Anggota Komisi X DPR, Mohammad Haerul Amri usai RDP dengan Kepala Perpusnas, Kamis (7/4/2022)/Foto: Anjasmara

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Anggota Komisi X DPR, Mohammad Haerul Amri mengungkapkan meningkatnya akses digital pada generasi muda bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak minat baca. Apalagi minat baca kalangan millenial pada buku semakin menurun. “Ada sekitar 145 juta yang mengakses internet, jadi hal ini menjadi tugas bersama bagaimana meningkatkan literiasi digital. Namun tentu disini ada tantanganya juga, yakni soal ketersediaan jaringan internet,” katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Kepala Perpusnas RI, terkait: Evaluasi Pelaksanaan UU Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) dan Keputusan RDP/Panja yang belum ditindaklanjuti, di Jakarta,
Kamis, (7/4/2022).

Berdasarkan data Kominfo terungkap budaya digital mendapat skor tertinggi dalam pengukuran Indeks Literasi Digital Indonesia 2021. Pilar Budaya Digital (digital culture) tercatat dengan skor 3,90 dalam skala 5 atau baik. Selanjutnya pilar Etika Digital (digital etics) dengan skor 3,53 dan Kecakapan Digital (digital skill) dengan skor 3,44. Sementara itu, pilar Keamanan Digital (digital safety) mendapat skor paling rendah (3,10) atau sedikit di atas sedang. “Oleh karena itu, kita harus secara bersama-sama harus mendorong literasi digital ini. Apalagi, tingkat membaca dari generasi Z ini sudah sangat jarang sekali. Malah lebih senang buka HP ketimbang membaca buku, sekali lagi saya menekan dukungan pada literasi digital,” terang Anggota Fraksi Nasdem.

Lebih jauh Ketua Bidang Pemuda dan Olah Raga DPP Partai NasDem ini mengaku kagum dengan sejumlah capaian dan kinerja Perpusnas. “Kita bahagia dengan Pak Syarif mendapatkan penghargaan Karya Cetak dan Karya Rekam (KCKR), namun disisi lain juga ternyata banyak sekali kekurangan yang dialami Perpusnas,” papar Gus Aam-sapaan akrabnya.

Apalagi, lanjut Waketum GP Ansor, tadi dikatakan bahwa Rasio KCKR itu 1:93 orang, artinya bisa jadi satu buku dibaca oleh 93 orang. Kalau terus diulang membacanya setidaknya sudah lecek. “Waktu, saya waktu kuliah dulu, lebih senang pinjam buku ketimbang beli. Karena kalau beli buku malas membacanya, tapi kalau pinjam buku, maka bacanya jadi semangat, karena selalu ditagih kapan dikembalikan.”

Ditempat yang sama, Kepala Perpustakaan Nasional,  Muhamad Syarif Bando dalam paparannya menyampaikan tentang fungsi Perpustakaan Nasional RI, peran karya cetak dan karya rekam (KCKR), tujuan pelaksanaan serah simpan karya cetak dan karya rekam, capaian penghimpunan KCKR Nasional, Data KCKR Nasional berdasarkan subjek, kebutuhan Gedung penyimpanan KCKR, perbandingan jumlah judul terbitan dengan jumlah penduduk per provinsi (tahun 2015-2020), dan keputusan RDP/Panja yang belum ditindaklanjuti.

Begitupun soal jumlah perpustakaan terakreditasi sebanyak 11.486 dari total 164.610 perpustakaan atau 6,9 %.  Kekurangan bahan bacaan secara merata di tanah air. Di Indonesia buku yang tersedia sebanyak 28.512.996 eks untuk 273,8 juta penduduk. Kekurangan tenaga perpustakaan secara merata di tanah air. “Kondisi saat ini jumlah tenaga perpustakaan di Indonesia sebanayak 14.994 orang, maka kekurangan tenaga perpustakaan sebanyak 95.329 orang untuk dapat melayani 273.8 juta penduduk,” paparnya. ***

Penulis     :    Arpaso
Editor       :    Eko

 

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top