Nasional

Ma’ruf Amin: Umat Islam Harus Jaga Pancasila

JAKARTA, Mustasyar PBNU KH. Ma’ruf Amin menegaskan bahwa kesepakatan-kesepakatan yang telah dilakukan para pendiri bangsa (founding fathers), seperti Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI harus dipegang teguh umat Islam.

“Kita umat Islam harus memegang teguh kesepakatan itu,” tegas Ma’ruf Amin pada peringatan Nuzulul Qur’an di halaman Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (23/5) malam.

Menurut Wapres terpilih itu, penyebutan negara berdasarkan kesepakatan itu dalam khazanah Islam klasik disebut dengan beragam sebutan, seperti darus suluh, darul ahdi was syahadah, dan darul mitsaq. Untuk penyebutan yang ketiga inilah yang lebih disukainya berdasarkan Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 92:

“Kalau antara kamu dan mereka non-muslim itu ada mitsaq, kesepakatan, kalu ada yang meninggal di antara non-muslim itu karena perbuatan kalian, maka kamu harus membayar diyat (kepada keluarganya),” tutur Ma’ruf Amin.

Karena itu kata Ma’ruf Amin, mengingat kesepakatan telah ada, sehingga pekerjaan umat Islam adalah menjaga kesepakatan tersebut. Sebab kalau tidak bisa menjaga, maka akan terjadikegaduhan. “NKRI adalah kesepakatan, kenegaraan kita kesepakatan, bahkan pilpres, pileg itu juga kesepakatan,” ujarnya.

Dengan demikian  Ma’ruf Amin mengajak umat Islam agar bersama-sama menjaga kesepakatan yang sudah dibangun oleh para pendiri bangsa Indonesia.

Peringatan Nuzulul Qur’an itu dihadiri Wapres Jusuf Kalla, pimpinan PBNU, seperti Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faisal Zaini, Katib ‘Aam PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan sejumlah menteri, yakni Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi M Hanif Dhakiri, Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud MD, dan Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Menurut Ma’rif Amin, pentingnya penyikapan secara toleran terhadap terjadinya perbedaan penafsiran ayat Al-Qur’an. Bahwa semua pihak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, sumber inspirasi, landasan berpikir, kaidah penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, tidak jarang terjadi perbedaan, bahkan benturan karena perbedaan penafsiran.

“Memang semua bicaranya menggunakan Al-Qur’an sebagai sumbernya, tapi tidak jarang terjadi perbedaan, bahkan benturan,” kata Ma’ruf.

Padahal menurutnya, perbedaan penafsiran bukan menjadi persoalan ketika semua pihak dapat menyikapinya dengan toleran.

Ia mencontohkan bagaimana dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 10 yang artinya “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya”.

Ia mengatakan, ayat tersebut terjadi perbedaan penafsiran. Ada yang menafsirkan langit tidak ada tiangnya, sementara pihak yang lain menafsirkan ada tiangnya. “Jadi satu ayat beda penafsiran,” katanya.

Begitu juga dalam kasus penerapan ayat Al-Qur’an yang dinilai tidak sesuai dengan situasinya, seperti Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 191.

Artinya, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka (orang-orang kafir), dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah)”.

Menurutnya, ayat tersebut sangat berbahaya jika diterapkan dalam kondisi damai karena ayat itu terkait dalam situasi perang. “Situasi perang itu kalau tidak membunuh ya dibunuh. Pilihannya membunuh atau dibunuh. Tapi ketika dalam suasana damai, ayatnya bukan itu,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, untuk kondisi damai, seharusnya ayat yang dipakai adalah Surat Al-Mumtahanah ayat 8, yang artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu”.

“Jadi Indonesia negara damai maka tidak boleh menggunakan ayat-ayat perang. Ini juga perlu diluruskan,” pungaksnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top