Nasional

Makna Pakewuh (Enggak Enakan)

*) Azmi Syahputra

Nggak Enakan adalah istilah untuk perasaan sungkan berlebihan, atau ewuh pakewuh. Dalam batas normal ini adalah situasi perasaan yang baik, wujud dari kesopan santunan budaya timur, refleksi dari keberadaan rasa malu yang merupakan fitrah manusia.

Namun kalau porsi dan penempatannya tidak tepat maka Nggak Enakan membuat manusia dapat melanggar batas keadilan dan rasa kepatutan dan cendrung tidak berjalannya proses berbeda dalam dialektika, pendapat
, pandangan atau sikap, yang membatasi pendapat dalan pengungkapan pada kebenaran.

Nggak Enakan yang berlebihan, dapat memicu seseorang untuk jadi pribadi “Yes Boss” atau Asal Bapak Senang (ABS), apa yang dilaporkan tidak sama dengan kenyataannya, didepan berbicara ya dan dibelakang bilang tidak, bahkan cendrung mengabaikan fakta dan kondisi kebutuhan kekinian.

Malah lebih parah jika sampai membiarkan atasan dalam kebijakannya melakukan hal yang keliru,ini malah bisa menjadi masalah baru dalam sebuah wadah atau organisasi.

Bahwa diketahui semua manusia tak bisa luput dari salah sehingga perlu dikoreksi, diluruskan, dan diarahkan dengan baik sekalipun orang tersebut memiliki posisi diatas kita yang membuat rikuh apabila ditolak permintaannya.

Rasa Nggak Enakan dapat membuat manusia tidak memberikan hak orang lain yang dititip Allah melalui dirinya, diberikan pada orang lain yang justru bukan pemilik hak itu dikarenakan sungkan pada kedudukan atau kedekatan dengan orang kedua ini.

Adilkah bila Si A kehilangan haknya hanya karena Si B merasa Nggak Enak pada si C sehingga si C yang dapat? Bukankah tidak adil ketika pemenuhan hak orang lain didasarkan pada rasa pribadi? Suka, benci, sungkan, malu, kasihan adalah perasaan yang biasanya mencampuri pertimbangan manusia dalam bertindak.
Namun ajaran agama sudah mengingatkan : “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. 

Di luar konteks pemenuhan hak orang lainpun Nggak Enak membuat manusia kehilangan kewajiban dan haknya untuk berlaku baik meringankan kesusahan orang lain.
Nggak Enak menawarkan bantuan, Nggak Enak membuatkan sistem baru yang membuat orang jadi lebih dimudahkan urusannya. Nggak Enak pada orang lain untuk memulai perubahan.

Maka Adalah hal yang tidak patut manusia melepas peluang berbuat baik dan melakukan perbaikan karena Nggak Enak atau pakewuh pada manusia.

Nggak Enak bukan selalu refleksi kesantunan, apalagi bawa bawa rasa ketimuran dan esensi moral yang dari nilai rasa yang tidak tepat, atau fakta yang salah apalagi kalau porsi dan penempatannya tidak tepat.

Nggak Enak menerima, menolak maupun menawarkan dapat membuka pintu bagi ketidakadilan pada diri sendiri dan orang lain. Apabila rasa Nggak Enakan itu dimiliki oleh orang- orang di posisi kunci kekuasaan, apakah berpengaruh pada pengambilan kebijakan yang berdampak pada lingkungan atau masyarakat luas sekalipun.

Nggak Enak pada partai yang mengusung, Nggak Enak pada tokoh yang mendukung, Nggak Enak pada para pemodal.

Adakah rasa Nggak Enak atau ewuh pakewuh pada Sang Maha Melihat? Ada kah gak enak sama makna dan jiwa berKetuhanan Yang Maha Esa? Ada kah gak enak pada sudah banyak nikmat yang di kasi Tuhan pada diri?

Maka kuncinya biasakanlah kejujuran, berterus terang dengan elegant, ekspresikan kebutuhan yang nyata tanpa harus merugikan orang lain, pasti tujuan organisasi akan tercapai bila selalu ada terus terang dan kejujuran, maka rasa gak enakkan pun akan sirna.

*) Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha)/Dosen FH Universitas Bung Karno

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top