Nasional

Mahyudin: Pancasila Alat Perekat Bangsa

JAKARTA – Kenapa MPR getol melakukan Sosialisasi Empat MPR? Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh Wakil Ketua MPR RI H. Mahyudin, ketika Sosialisasi Empat Pilar MPR di Gedung KONI Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (27/4/2017). Karena MPR RI ingin mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita banggakan ini.

Sosialisasi yang diselenggarakan oleh MPR bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Acara ini diikuti 400 peserta, terdiri dari para mahasiswa Universitas Muhammadiyah dan pengurus BEM dari berbagai perguruan tinggi di Kalimanta Tengah.

Menurut Mahyudin, selama 72 tahun Indonesia mereka, Indonesia tak pernah sepi dari rongrongan. Dulu ada gerakan Permesta, DI/TII, RMS di Malaku, Gerakan Aceh Merdeka yang kini sudah selesai, dan puncaknya gerakan untuk mengganti ideologi negara Pancasila, yaitu G 30 S/ PKl.

Bahkan sekarang pun masih ada yang menggelorakan ideologi komunis, meski sudah ada Ketetapan MPR No. XXV Tahun 1966 tentang Larangan Penyebaran Ideolgi Komunis. Buktinya, simbol palu arit muncul di mana-nama, dan di kaca-kaca mobil ditempel lambang partai terlarang itu.

Walau pun terus-menerus mendapat rongrongan, tapi ideologi Pancasila yang digali dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia ini tetap bertahan. Menurut Mahyudin, Bung Karno, presiden pertama Indonesia, pernah menawarkan Pancasila menjadi ideologi dunia. Karena, Pancasila dianggap ideologi jalan tengah yang mampu mempersatukan bangsa.

“Jadi, Pancasila itu adalah alat perekat kita. Pancasila untuk menangkal paham-paham yang ingin memecah belah Indonesia atau paham-paham yang ingin mengganti ideologi bangsa kita,” katanya.

Hadir dalam acara sosialisasi ini: anggota MPR dapil Kalimantan Tengah Agati Suli Mahyudin, SE.; anggota MPR Fraksi PAN Hang Ali; Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Dr. H. Supardi, MPd.; dan pejabat mewakili Gubernur Kalteng, dalam hal ini Kepala Kesbangpol, Drs. Berlin Swal.

Palangkaraya Ibukota Negara

Selain Mahyudin bertanya kepada para peserta tentang wacana pemindahan Ibukota ke Palangkaraya. “Apakah kalian setuju?,” begitu tanya tokoh nasional asal Kalimantan Timur ini.

Ternyata di luar dugaan, dari 400 mahasiswa yang terdiri dari para mahasiswa Universitas Muhammadiyah dan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Kalimantan Tengah yang menjadi peserta sosialiasi itu tak satu pun terdengar jawaban setuju. Suara yang terdengar justru lebih banyak tidak setuju. Dan, ketika pertanyaan sama diulang sekali lagi oleh Mahyudin, para mahasiswa tetap menjawab: tidak setuju.

Mendengar jawaban itu, Mahyudin menyatakan, yang dipikirkan dipikirkan dari rencana itu dari segi negatifnya. Ada yang bilang, macet akan pindah ke Palangkaraya. Seharusnya, menurut Mahyudin, yang dipikirkan dari segi positifnya.

“Pemindahan ibukota negara ke Palangkaraya akan terjadi percepatan pembangunan di Indonesia bagian Timur. Mahyudin memberi contoh Brasil, yang memindahkan ibukotnya dari San Paulo di selatan ke Brasilia di utara, yang membuat wilayah utara negara Brasil itu menjadi berkembang.

Karena itu, politisi Golkar ini berpendapat, kalau pemindahan ibukota negara ke Palangkaraya, akan sangat strategis. Dan, juga merupakan kehormatan bagi Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah. “Tapi masyarakat di sini tampak kurang antusias menanggapi rencana itu. Saya tidak tahu apakah sosialisasinya memang kurang,” sebut Mahyudin.

Padahal, keutungan kalau Kalimantan Tengah diJadikan ibukota negara, selain merupakan sebuah kehormatan, pertumbuhan ekonomi di wilayah ini akan lebih baik. Juga, kalau Palangkaraya jadi ibukota negara, otomatis nilai tanah di sini bisa meningkat sampai 20 kali lipat. “Tapi, mungkin juga dampak sosialnya cukup besar, tapi tujuan kita adalah memindahkan ibukota negara dengan perencanaan yang matang dan baik,” ujarnya.

Menurut Mahyudin, secara pribadi, dia sangat mendukung kalau ibukota negara dipindahkan ke Kalimantan. “Kalau ibukota negara berapa di wilayah tengah Indonesia maka bisa mendorong percepatan pembangunan wilayah timur Indonesia yang selama ini relatif agak tertinggal dibanding wilayah Barat,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top