Perbankan

Langkah Penguatan Industri BPR Berpotensi Susutkan Jumlah Bank

Langkah Penguatan Industri BPR Berpotensi Susutkan Jumlah Bank
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar di Jakarta/Sumber Foto: Dok Setkab.go.id

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM
Pemerintah terus mendorong dan sekaligus memperkuat kondisi industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) baik konvensional maupun syariah. Namun dalam pelaksanaannya, tak jarang BPR terpaksa harus tutup karena tidak memenuhi ketentuan yang dimaksud.

Berdasarkan catatan bahwa BPR harus memenuhi modal inti senilai Rp6 miliar sampai akhir 2024. “Jadi ini adalah langkah-langkah yang menjadi target kami di OJK,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar di Jakarta, Jumat (22/3/2024).

Kebijakan itu, kata Mahendra, dilakukan dengan memperhatikan kesehatan keuangannya, tata kelola, dan aktivitas bisnis, dan pemenuhan modal intinya.

Di sisi lain, adanya BPR yang terindikasi kecurangan (fraud) juga membuat jumlah BPR terus menyusut karena bangkrut. “Bahwa dalam pelaksanaannya itu ada BPR yang tidak memenuhi persyaratan pengaturan dan ketetapan yang kami lakukan tentu ada sanksinya,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut, Mahendra menjelaskan, tidak ada target angka jumlah BPR yang ingin dituju. Adapun hal ini adalah hasil dari proses organik penyehatan yang dilakukan. “Artinya bukan dari segi angka itu yang menjadi target, tapi lebih pada upaya untuk memang betul-betul langkah penyehatan BPR,” paparnya.

Sepanjang 2024, OJK telah mencabut izin usaha BPR sebanyak 7, yakni BPR Usaha Madani Karya Mulia di Surakarta, BPR Wijaya Kusuma di Madiun, BPRS Mojo Artho di Mojokerto, BPR Bank Pasar Bhakti di Sidoarjo, Perumda BPR Bank Purworejo, teranyar BPR EDCASH di Tangerang, dan BPR Aceh Utara di Aceh.

Pada 2023, OJK telah mencabut izin usaha 4 BPR lain yakni BPR Bagong Inti Marga (BIM) di Jawa Timur, Perumda BPR Karya Remaja Indramayu (BPR KRI) di Jawa Barat, BPR Indotama UKM Sulawesi, dan BPR Persada Guna di Jawa Timur.

Sebagai catatan, data statistik perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, industri BPR mencetak laba Rp1,94 triliun sepanjang 2023. Angka ini merosot 38,65 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,16 triliun.

Padahal, industri BPR mencetak penyaluran kredit sebanyak Rp 140,79 triliun sepanjang 2023, atau tumbuh 8,16 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 129,29 triliun.***

Penulis : Chandra
Editor   : Chandra

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top