Headline

Kuartal II 2020, BPS: Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32%

Suhariyanto/Kompas.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2020 mencapai minus 5,32 persen. Hal ini karena dampak dari turunnya konsumsi rumah tangga, akibat dari pandemi Covid-19. “Kalau melacak pertumbuhan ini secara triwulanan, minus 5,32 persen ini terendah sejak triwulan I-1999 yang kontraksi 6,13 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto di Jakarta, Rabu, (5/8/2020).

Lebih jauh Suhariyanto mendesak pemerintah perlu segera membenahi kinerja dalam triwulan III-2020 melalui sejumlah stimulus maupun insentif yang sudah disiapkan. Sehingga perekonomian bisa kembali menggeliat, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga dan pemerintah. “Skenario dan kebijakan pemerintah sudah komprehensif melalui penanganan COVID-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional,”ujarnya seraya menegaskan bahwa Presiden juga telah berulang-ulang mengarahkan, semua harus memicu stimulus penanganan ekonomi untuk mendorong supply dan demand.

Menurut dia, arah membaiknya perekonomian itu mulai terlihat dari kenaikan jumlah penumpang transportasi darat, laut maupun kereta api pada periode Juni terhadap Mei 2020 setelah adanya pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Mulai Juni beberapa indikator mulai mengalami perbaikan meski masih jauh dari normal. Mari bergandengan tangan, agar ekonomi makin bergerak, termasuk disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Ini kunci utama agar COVID-19 tidak menyebar,” katanya.

Sebelumnya, BPS mencatat terjadi kontraksi dalam perekonomian Indonesia sehingga tumbuh minus 5,32 persen pada triwulan II-2020 karena COVID-19 yang telah membatasi aktivitas ekonomi. Dari sisi lapangan usaha, kontraksi terjadi di berbagai kelompok seperti industri pengolahan yang minus 6,19 persen, perdagangan minus 7,57 persen dan konstruksi minus 5,39 persen.

Lapangan usaha lainnya yang ikut tumbuh negatif adalah pertambangan minus 2,72 persen, administrasi pemerintahan minus 3,11 persen dan yang terdampak paling besar yaitu transportasi dan pergudangan minus 30,84 persen. Meski demikian, masih ada sektor yang tumbuh positif dalam periode ini antara lain sektor pertanian 2,19 persen, informasi dan komunikasi 10,88 persen serta jasa keuangan 1,03 persen.

Dari sisi kelompok pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang kontraksi terbesar dengan tumbuh negatif 5,51 persen disusul pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yang merupakan komponen investasi, dengan tumbuh minus 8,61 persen. Dalam periode ini, konsumsi pemerintah juga terkontraksi hingga 6,9 persen, ekspor barang dan jasa tumbuh minus 11,66 persen serta impor barang dan jasa tumbuh negatif 16,96 persen.Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2020 sempat tercatat mencapai 2,97 persen atau mulai menunjukkan adanya perlambatan akibat pandemi COVID-19.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top