Pertanian

Kopai Osing, Begini Cara Menikmati Kopi Berkualitas

BANYUWANGI-Jutaan orang boleh menikmati kopi tiap harinya, tapi bagaimana menikmati kopi yang benar mungkin masih bisa dihitung jari. Para penikmat kopi bisa mampir ke sebuah kampung namanya Kampung Osing. Warga asli orang Banyuwangi, Jawa Timur ini menyebut kopi dengan sebutan kopai.

Kampung Osing yang berada di Desa wisata Kemiren, Banyuwangi ternyata memiliki cita rasa kopi sendiri. Yang membedakan kopi di kampung ini adalah proses tanamnya yang menyalahi pakemnya, karena ditanam di bawah ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Selain itu, kondisi iklim dan tekstur tanah di Kampung Osing yang rendah karena berada di pesisir laut membuat kopi yang dihasilkan berbeda dengan kopi kebanyakan.

Di kampung ini, sosok Setiawan Subekti atau masyarakat setempat memanggilnya dengan panggilan Pak Iwan berhasil mengedukasi masyarakat setempat dalam memproses kopi secara tradisional. “Kami sajikan kopi mulai dari proses tanam yang benar sampai ke cangkir,” kata Iwan penuh semangat menjelaskan secara rinci proses pembuatan Kopai Osing.

Iwan mengaku memiliki binaan petani kopi lintas pulau nusantara. Cita-citanya mengedukasi petani kopi untuk menanam kopi secara benar. Kehadirannya bersama-sama kami dari rombongan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di akhir pekan pada pertengahan bulan November 2016 itu memang sudah terencana.

Di sanggarnya, Sanggar Genjah Arum yang didirikannya memperlihatkan bagaimana proses pembuatan kopi secara tradisional dengan benar dipaparkannya.

Soal pelestarian kopi. Iwan mengaku, seperti kebanyakan tumbuhan kopi di Indonesia, kopi yang banyak ditanam berjenis kopi Rabusta atau kopi Arabica. “Tetapi, seperti kebanyakan di wilayah Indonesia, Kopi jenis Arabika lebih banyak ditanam seperti yang kami tanam di sini,” katanya.

Kendati bukan berasal dari varietas kopi asli lokal, Iwan mengaku kopi yang ditanam di Kampung Osing memiliki cita rasa sendiri. Sebab, katanya, cita rasa kopi sangat ditentukan dari kondisi tanam setempat. “Orang bilang kopi itu akan berkualitas baik kalau ditanam di atas ketinggian 1000 meter, tetapi di sini kopi berhasil tumbuh baik meski ditanam di bawah 1000 meter. Kamipun menanamnya dengan pupuk organik. Jadi nggak ada pupuk kimianya, kami menghindari racun,” kelakarnya.

Di sanggarnya, kebersamaan ibu-ibunya terlihat. Semua terlibat dalam proses pembuatan kopi. Ada yang menumbuk di alung besar. Di sudut lain, kaum ibunya terlihat asik menyangrai kopi yang sudah matang dan mengering sempurna. Wajannya terbuat dari tanah liat berada di atas tungku kayu bakar. Kopi perlahan-lahan disangrai hingga matangnya merata.

Sementara kelompok bapak-bapaknya terlibat dalam penggilingan kopi hingga penyeduhan kopi. Gula disajikan dalam dua macam yaitu gula putih dan gula aren. “Gula sebenarnya hanya pendukung rasa saja. Jangan terlalu banyak, karena bisa mengurangi inti dari rasa kopi itu sendiri,” kata Iwan memberi wejangan.

Dari sisi lain sanggar, seorang ibu asik menggoreng pisang sebagai teman menikmati kopi. Iwan berupaya menjadikan para penikmat kopi yang singgah di sanggarnya membaur dengan lingkungan di kampung asli orang Banyuwangi ini. Suasana makin menyatu dengan kehadiran tarian gandrung. “Kami sengaja menyajikan kepada teman-teman Tarian Gandrung yang penarinya merupakan para mahasiswi. Kenapa kami libatkan para mahasiswi karena menurut saya tarian ini telah bergeser menjadi tarian yang berkonotasi negatif. Jadi saya berusaha mengembalikan makna sesungguhnya Tarian Gandrung yang sebenarnya adalah tarian untuk persahabatan, kebersamaan dan memiliki nilai-nilai luhur yang diciptakan nenek moyang kami,” katanya.

Sekjen MPR RI Ma’ruf Cahyono selaku pimpinan rombongan Sosialisasi 4 Pilar diajak menari dalam tarian ini. Dari mimiknya, Ma’ruf tampak kagum dan menaruh hormat atas kerja keras Iwan bersama warga setempat memelihara dan melestarikan potensi di wilayah ujung timur Pulau Jawa ini. “Apa yang dikerjakan Pak Iwan sesuai dengan Program Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Menumbuhkan nilai-nilai yang selalu kami gaungkan dalam 4 Pilar MPR. Pancasila, UUD 145, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Kami bangga masih ada anak bangsa yang peduli memajukan nilai-nilai, budaya, adat istiadat yang berkembang di masyarakat sehingga kelestariannya tetap terpelihara,” kata Ma’ruf memuji hasil kerja warga di Kamoung Osing.(har)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top