Market

Kenaikkan Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Rupiah

JAKARTA-Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, menepis anggapan Bank Sentral terlambat menaikkan suku bunga acuan (behind the curve) sehingga nilai tukar rupiah, Jumat, ini tetap bergerak melemah. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat ini melemah, dari Rp14.045 menjadi Rp14.106.

Dalam perbincangan dengan media di Jakarta, Jumat, dia mengatakan, rupiah yang masih melemah Jumat ini karena tekanan eskternal yang semakin besar karena ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat, pada Juni 2018, yang akhirnya mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun.

Kemudian juga tekanan ekonomi internal karena membengkaknya defisit perdagangan hingga 1,6 miliar dolar Amerika Serikat periode April 2018. “Jadi kalau ada tekanan di rupiah, kami lihat ini sesuatu yang dalam hal karena faktor eksternal dan juga faktor internal,” ujar dia.

Ia menegaskan, langkah yang diambil Bank Indonesia selalu selangkah lebih maju ke depan atau ahead the curve untuk mengantisipasi tekanan terhadap inflasi dan stabilitas perekonomian domestik.

Kenaikan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate pada Rapat Dewan Gubernur 16-17 Mei 2018 kemarin, kata dia, karena tekanan eksternal yang semakin deras dan bisa mengganggu pencapaian sasaran inflasi jika tidak direspon dengan kenaikan suku bunga acuan.
“Di Mei 2018, kita lihat eksternal ada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, US Treasury, tensi perdagangan antara AS dan China, keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir. Dan kalau kita lihat, sebenarnya inflasi sesuai arahan kita hingga Mei di 2,5-4,5 persen (yoy), tapi kita mau jaga inflasi kita stabiltas agar terus terjaga,” ujar dia.

Ia menegaskan, arah kebijakan moneter BI saat ini adalah netral. Namun, kata Agus, Bank Sentral siap menerapkan langkah kebijakan moneter yang lebih kuat termasuk penyesuaian kembali suku bunga acuan untuk memastikan stabilitas perekonomian terjaga.
“Kalau seandainya kita keluarkan bauran kebijakan seperti sekarang ini, kalau kondisi mengharuskan untuk kami kembali melakukan penyesuaian, maka kami tidak ragu,” kata Martowardojo.

Setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan pada Kamis kemarin (17/5) sebesar 0,25 persen menjadi 4,5 persen, nilai tukar rupiah belum menunjukkan penguatan. Nilai rupiah, Jumat pagi, yang ditransaksikan antarbank melemah sebesar 61 poin menjadi Rp14.106 dibanding posisi sebelumnya Rp14.045 per dolar Amerika Serikat.

Kurs Acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate yang diumumkan Bank Indonesia juga menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp14.107 per dolar Amerika Serikat pada Jumat ini dibanding Kamis (17/5) yang sebesar Rp14.074 per dolar Amerika Serikat. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top