Opini

Kembalikan Trisakti Pada Relnya

Azmi Syahputra

*) Dr Azmi Syahputra

Perkembangan teknologi dan dinamika perilaku masyarakat sangat cepat dan kompetitif mempengaruhi fenomena yang terjadi saat ini. Apalagi perilaku itu datangnya dari dalam maupun luar tidak terlepas dari praktik penyelengara negara yang sudah lari jauh dari Trisakti pendiri bangsa. Sehingga bentuk format praktik yang salah dari para penyelenggara negara.

Advertensi ideologis negara telah terkubur, hal ini terlihat dari panorama penyelenggara negara yang tidak konsekuen dalam praktik di lapangan selama berpuluh tahun, dengan ideologi sendiri. Dan kini mulai dirasakan berdampak pula pada sikap perilaku warga negaranya dan cendrung membuat Indonesia negara besar dan kaya raya ini menjadi lebih rapuh, mudah diintervensi, khawatir dan kurang percaya diri.

Sehingga tidak mampu berdiri di kakinya sendiri, karena telah menjadi sasaran pengusaha dan penguasa culas (khas kapitalisme/neolib). Dimana mereka telah berhasil menimbulkan rasa ketakutan, kecemasan dan keresahan.

Dengan memainkan perannya untuk menaikkan harga harga kebutuhan tertentu dari kecemasan dan rasa takut masyarakat tadi, termasuk permintaan kebutuhan yang meningkat atas sebuah produk.

Kejadian ini semua akibat tonggak estafet penyelenggaraan negara pasca Presiden Soekarno, kehilangan arah atas ideologi negara. Praktik ideologi pembangunan saat ini telah dimenangkan para pemilik uang dan karena
kekuasaanlah yang membuatnya begitu. Sehingga membuat Indonesia mudah diguncang arus, karena kurang kokoh bangunan mental jiwa bangsanya.

Pembangunan yang tidak berkeadilan sosial melainkan berubah semata demi keadilan individual.

Mau tidak mau secara langsung atau tidak langsung berdampak pada mental dan cara pandang kebanyakan warga akibat kebanyakan penyelengara negara yang lari dari Trisakti.
Sehingga membawa jiwa dan sikap warga negara kebanyakan tidak lagi bernilai kekuataan trisakti yang syarat dengan nilai Pancasila, ada 3 (Tiga) point utama dalam Trisakti, yakni berdaulat dibidang politik, kemudian berdikari di bidang ekonomi dan sakti, Ketiga berkepribadian dibidang  kebudayaan”.

Kini ketiga kalimat sakti tersebut tidak ampuh lagi dan berasa hambar , padahal konsep trislsakti inilah yang membuat bangsa ini  berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari), tidak tergantung pada orang lain. Hal ini adalah kalimat sakti yang fundamen sebagai prinsip  mewujudkan tujuan negara yang demokratis sejahtera, berkeadilan sosial.

Maka kini teruslah berkarya, berinovasi, pembangunan kualitas penegakan hukum yang terukur dan berwibawa, batasi impor, kembangkan potensi maritim, galakkan sektor pertanian. Dam munculkan rasa bangga dengan produk bangsa sendiri dan mendorong semua dan setiap individu Indonesia harus bermental ketuhanan yang maha esa, rasa kemanusiaan yang berpersatuan, pemimpin yang berkhidmat serta keadilaan sosial.

Sehingga apapun fenomena yang akan terjadi pasti akan mudah dihadapi.

Inilah salah satu solusi, kembali pada kunci pertahanan ideologi Indonesia, rumah trisakti dan nilai nilai pancasila yang selama ini diabaikan.

Kini hanya butuh komitmen nasionalisme dan konsistensi dalam inplementasinya serta kejernihan hati para penyelenggara negara guna jadi contoh teladan kepemimpinan agar penerapan trisakti ini dapat lebih berjiwa dan maksimal hasilnya dalam pelaksanaan berbangsa dan bernegara.

*) Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Karno.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top