Nasional

Kejahatan Sistemik Perlu Hukuman Mati

JAKARTA-Operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap 2 hakim Pengadilan Jakarta Selatan, termasuk pengacara, seorang panitera dan pihak-pihak yang berperkara menunjukkan korupsi sudah menjadi penyakit kronis dan stadium akut. Sungguh aneh perilaku kebanyakan aparat Indonesia. “Padahal sudah tahu ini penyakit, malah tak mau disembuhkan. Malah semakin nekad penyakit korupsi disuburkan,” kata pengamat hukum pidana Azmi Syahputra dalam siaran persnya di Jakarta, Sabtu (1/1/2018).

Perilaku ini jelas disengaja, kata Azmi, karena ada keinginan yang sama antara majelis hakim dan panitera termasuk pengacara. Mereka menunjukkan betapa bobrok perilaku aparat peradilan “Ini yang ketahuan lhoo. Bisa jadi masih lebih banyak gerombolan perilaku curang dengan tipe begini denga berbagai modus nya,” tambahnya.

Jadi tak ada jalan lain dalam kedaaan krisis moral begini, dimana pemerintahan sedang terus berupaya membangun malah prilaku aparatur mencoreng keburukan. “Hal ini semakin membuat masyarakat semakin jenuh dan tidak percaya pada hukum dan peradilan,” ujar Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia(ALPHA).

Dosen FH UBK ini menyarankan agar sanksi hukuman lebuh diperberat, yakni hukuman mati bagi pelaku OTT ni. Kejahatan yang sudah sistemik dapat dimusnahkan dengan hukuman mati (asas crimina morte extinguuntur). Toh Undang-Undang Tipikor Pasal 2 ayat 2 memberi ruang untuk hukuman mati. “Kalau hukuman bagi koruptor masih dapat di nego dan masih hukuman badan ya tidak akan pernah habis para koruptor ini akan terus tumbuh subur,” paparnya.

Azmi menilai aparat hukum sudah ketagihan korupsi dengan dosis yang lebih tinggi, termasuk nilai korupsinya. Karena itu, yang ada dampak dengan cara impunitas diam-diam atau “hukuman yang masih dapat dinego” mengundang pelaku untuk melakukan kejahatan yang lebih besar dan saat ini telah terjadi. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top