Market

Kampus Klaster Pertama Rata-Rata Mudah Peroleh Pekerjaan

Sarjana baru/Kompas.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Sejumlah perguruan tinggi bersaing mendapatkan posisi teratas terkait klaterisasi 2020. Salah satu tolok ukurnya terkait indikator dan bobot yakni, input (20%), proses (25%), output (25%) dan outcome (30%). Skor outcome terdiri dari, kinerja inovasi 25%, lulusan yang memperoleh pekerjaan dalam waktu 6 bulan 15%, jumlah sitasi per dosen 20%, kinerja pengabdian 25%.

Total perguruan tinggi di dalam klasterisasi tahun 2020 adalah 2,136 Perguruan Tinggi. Hasilnya, ada 15 perguruan tinggi yang masuk dalam klasterisasi 2020. Kemudian 34 perguruan tinggi di klaster kedua, 97 perguruan tinggi di klaster ketika, 400 perguruan tinggi di klaster keempat, dan 1.590 perguruan tinggi di klaster kelima.

Institut Pertanian Bogor (IPB) menempati urutan pertama, mengungguli Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). “Selama rector perguruan tinggi bisa membangun sinergi, maka hal itu merupakan kekuatan utnuk mewujudkan visi dan misinya dalam membawa seluruh civitas akademika meningkatkan kualitasnya,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam dalam siaran persnya, Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Lebih jauh kata Nizam, klasterisasi bertujuan menjadi landasan pengembangan perguruan tinggi. Khususnya meningkatkan kualitas pelaksanaan tridharma perguruan tinggi secara berkelanjutan.  Disisi lain, klasterisasi bertujuan memberi informasi kepada publik terkait kualitas perguruan tinggi. “Pengelompokan perguruan tinggi sesuai dengan level perkembangannya,” tambahnya.

Nizam menyatakan, klasterisasi dilakukan berdasarkan peniliaian terhadap empat aspek utama. Pertama, mutu sumber daya manusia dan mahasiswa. Kedua, pengelolaan kelembagaan.
Ketiga, capaian kinerja jangka pendek. Keempat, capaian kinerja jangka panjang. Pada aspek pertama, indikator yang digunakan adalah persentase dosen berpendidikan S3, persentase dosen dalam jabatan lektor kepala dan guru besar, rasio jumlah dosen terhadap jumlah mahasiswa, jumlah mahasiswa asing, dan jumlah dosen bekerja sebagai praktisi di industri minimum 6 bulan.

Untuk aspek kedua, ada 9 indikator yang beberapa di antaranya akreditasi institusi, akreditasi program studi, pembelajaran daring, kerja sama perguruan tinggi, dan jumlah mahasiswa yang mengikuti program merdeka belajar. Lalu, pada aspek ketiga indikator yang digunakan antara lain jumlah artikel ilmiah terindeks per dosen, kinerja penelitian, dan kinerja kemahasiswaan, jumlah program studi yang memperoleh akreditasi internasional.

Sementara, indikator yang digunakan pada aspek keempat antara lain kinerja inovasi, jumlah sitasi atau kutipan per dosen, jumlah paten per dosen, kinerja pengabdian masyarakat, dan persentase lulusan perguruan tinggi yang memperoleh pekerjaan dalam waktu 6 bulan. “Setiap indikator memiliki bobot terhadap nilai kinerja perguruan tinggi secara keseluruhan,” kata Nizam.

Nizam menyatakan, tak ada dikotomi antara perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) dalam klasterisasi tersebut. Penilaian dilakukan secara sama terhadap seluruh aspek. Jumlah perguruan tinggi yang berada di klaster pertama, kata Nizam, meningkat dari tahun lalu yang sebanyak 13 institusi. Hal ini membuktikan perguruan tinggi terus meningkatkan kualitasnya.

Meski begitu, ia berharap perguruan tinggi tak lekas berpuas diri. “Perguruan tinggi yang sudah maju akan kami dorong untuk berlari lebih kencang, bagi yang berada di bawah mereka akan kami berikan pembinaan khusus,” pungkasnya. ***

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top