Industri & Perdagangan

Jawa Timur Terima Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau Rp1,43 Triliun

SURABAYA-Dukungan politik dan kebijakan Pemprov Jawa Timur terhadap industri rokok cukup berdampak positif. Sebut saja, kontribusi positif industri rokok terhadap dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCT) mencapai 348 miliar batang pada 2015. Dari jumlah itu, 60 persennya disumbang Jatim. “Dari total kebutuhan tembakau untuk industri hasil tembakau sebanyak 363 ribu ton per tahun, 74.241 ton pasokannya dari Jatim dan menempatkannya sebagai pemasok tembakau terbesar di Indonesia,” kata Ketua Paguyuban Mitra Pelinting Sigaret Indonesia (MPSI) Djoko Wahyudi, Selasa (13/9/2016).

Besarnya sumbangan tersebut, kata Djoko, provinsi dengan 38 kabupaten/kota ini mendapatkan dana tertinggi, yakni Rp 1,43 triliun atau 51,25 persen dari total DBHCT sebesar Rp 2,79 triliun pada 2015. Sedang 2016, hingga awal September ini, realisasi penerimaan cukai tercatat sebesar Rp 63,863 triliun, atau 43,61 persen persen dari target penerimaan cukai sebesar Rp 146,439 triliun.

Untuk 2017, Djoko menyebut target kenaikan cukai antara 6 sampai 10 persen yang dipatok pemerintah masih bisa terpenuhi. “Tapi untuk mewujudkannya memang cukup berat. Dan satu lagi syaratnya, provokasi harus dihentikan,” imbuhnya.

Namun kata Djoko, Industri rokok sigaret kretek tangan (SKT) turun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan hasil produksi dalam delapan bulan terakhir. Sejak bulan Januari hingga Agustus 2016, penurunan produksi sudah mencapai 20 persen. Sementara 2015 lalu, produksi SKT sudah turun sebanyak 30 persen. “Jadi, kalau dihitung sejak tahun lalu hingga bulan Agustus tahun ini, produksi rokok SKT sudah turun sebesar 50 persen,” terangnya.

Dengan kondisi tersebut, pihaknya, minta pemerintah agar tidak menaikkan cukai untuk rokok SKT. Jika cukai tetap dinaikkan, bisa dilakukan untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM), yang penggunaan tembakaunya tidak sebanyak SKT. “Selain itu, SKM dan SPM juga tidak terlalu berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Makanya kenaikan cukai bisa dialihkan kesana,” terangnya.

Djoko lantas memberi contoh, bahwa saat ini satu mesin yang digunakan untuk pembuatan SKM dapat menggantikan 6.000 orang tenaga kerja di SKT. “Di tempat produksi saya, misalnya. Jika tahun 2000 lalu, jumlah tenaga kerja mencapai 2.500 orang, pada bulan Agustus 2016 telah tereduksi menjadi 1200 pelinting saja,” tukasnya.

Untuk itu, sambung Djoko, pihaknya minta pemerintah pusat meniru apa yang dilakukan Pemprov Jatim yang terus memberikan dukungan terhadap tumbuh kembangnya industri rokok di Jatim. “Selama ini, dukungan pemerintah pusat terhadap industri ini kami rasakan masih minim,” pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top