Nasional

Instruksi Gubernur Harus Dieksekusi, Perlu langkah revolusioner

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia(Alpha) Azmi Syahputra mengapresiasi langkah gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait penanganan polusi udara Jakarta yang menjadi persoalan serius bagi masyarakat ibu kota.

Menurutnya, langkah Gubernur DKI yang mengakui dan menyampaikan pada publik terkait masih buruknya kualitas udara Jakarta perlu diimplementasikan secara konkret.

“Langkah Anies yang mengeluarkan instruksi Gubernur No 66/2019 tentang pengendalian kualitas udara yang berisi tentang ada 7 inisiatif pengendalian udara instruksi Gubernur tersebut harus segera di eksekusi dan segera ambil langkah revolusioner,” tandas Azmi kepada wartawan di Jakarta, Senin (05/8/2019).

“Kebijakan pencegahan ini harus terus didorong pelaksanaannya dan terus di evaluasi agar lebih efektif karena Gubernur DKI, baru akan menerapkan kebijakan itu pada tahun 2020,” sambungnya.

Menurutnya, situasi kualitas udara yang buruk ini sifatnya urgent bahkan bisa jadi darurat.

“Maka seharusnya segera di eksekusi, 2 poin yang dimaksud (pembatasan usia kendaraan angkutan umum dan biaya parkir) dalam instruksi belum banyak dampak karena masih tunggu 2020 sementara kualitas udara semakin hari jika tidak ada tindakan nyata dan segera akan semakin buruk(tidak sehat),” kata Azmi.

Azmi menilai, tarif harga parkir saat ini tidak memberikan efek jera.

“Sudah tepat jika gubernur DKI kedepan menerapkan tarif parkir mobil sehari berkisar 250 sampai 500 ribu. Ini akan efektif mengurangi penggunaaan kendaraan pribadi di Jakarta,” ujarnya.

Lebih lanjut Azmi menyarankan agar pemprov DKI dapat memastikan koneksi antara angkutan umum ke moda transportasi publik agar efisien dan efektif.

“Interkoneksi moda transport itu harus dikerjakan segera, harus nyaman, bersih, antar gedung atau mall terkoneksi, baru orang-orang mau swicth ke MRT,” tandasnya.

Yang jelas, kata dia, situasi Jakarta yang berada di daerah tropis sangatlah beda.

“Kita jalan 500-1000 meter saja sudah berkeringat. Jadi Gubernur dan stakeholdernya harus punya formulasi konkrit yang revolusioner guna menangani kualitas udara Jakarta daripada human cost (biaya kesehatan dan kerugian lainnya) akibat sakitnya warga semakin tinggi dan berdampak pula pada kualitas SDM yang memburuk dampak dari menghirup udara yang tidak sehat,” ujarnya.

Untuk diketahui, beberapa minggu ini Jakarta masih menempati rekor terburuk dunia untuk kualitas udara yang tidak sehat (air quality index) menurut situs resmi Air Visual

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top