Opini

Hambatan Psikologis Tak Hapuskan Pidana

*)Azmi Syahputra

Perlu penggalian identifikasi personalitas anak ABG umur 15 tahun atas motif perilaku pembunuhnya terhadap bocah umur 5 tahun di Wilayah Sawah Besar Jakarta Pusat (5/3/2020) guna mengetahui faktor penyebab pembunuhan tersebut.

Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh anak perempuan umur 14 tahun yang masih pelajar ini yang membuat polisi awalnya pun tidak percaya atas pengakuannya tersebut. Hal ini perlu rasa empati dan penelusuran dari aspek psikologis dan lingkungan sosialnya .

Bisa jadi dari penelusuran akan diketahui sekelam apa hidupnya, adakah kekerasan ( Violence against Children in the Home and the Family), trauma atau stress di lingkungannya. Baik berupa tekanan atau ancaman, bahkan bisa jadi pula anak ini menumpuk kekecewaan yang banyak pada orang terdekatnya dan sudah berlangsung lama dialami anak tersebut.

Tentu ini perlu disisir oleh polisi, begitupun dengan psikiater, perlu bekerja sama dengan team terpadu penangangan anak yang berhadapan dengan hukum.

Yang jelas perilaku menyimpang ini bisa disebabkan karena faktor komunikasi keluarga yang tersumbat. Dimana orang tua abai atas perkembangan anak. Sehingga anak tidak punya ruang dialog untuk solusi dalam menghadapi perkembangan dan pertumbuhan ia sebagai anak dan menuju remaja.

Inilah yang jadi hambatan sekaligus diduga membuat perilaku anak tersebut jadi menyimpang.

Meskipun demikian, pertanggung jawaban hukum harus dikenakan pada anak ini mengacu pada Undang-Undang Sistem Peradilan Anak, pidana dapat dijatuhkan maksimal 10 tahun dan atau (1/2) setengah dari hukuman pidana orang dewasa.

Jadi tidak bisa dengan hanya melihat hasil semata berdasarkan faktor psikologis, kemudian anak itu bebas dari hukuman. Namun pertanggung jawaban hukum harus dikenakan, jika ia diketahui melakukan kejahatan tersebut dengan sadar dan sengaja, maka hukuman harusnya diberikan berdasarkan berat ringannya kejahatan yang dilakukannya.
Jadi bukan karena label faktor psikologis semata, atau ia psokopat maupun karena keperibadian yang sensitiv semata.***

*)Dosen Hukum Pidana Universitas Bung Karno.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top