Headline

Groundbreaking Kilang Tuban Sekitar Maret 2017

JAKARTA-Pembangunan kilang minyak Tuban mengalami progres yang cukup bagus. Bahkan 2017 eksekusi sudah jalan. Yang jelas kilang Tuban sudah ada technical consultant, tindaklanjutnya yakni pemilihan licensor. “Selain itu, BED (desain teknik dasar) akan diselesaikan konsultan dan akan difinalkan oleh licensor kemudian dilanjutkan dengan FEED (front end engineering design),” kata Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto di Jakarta, Senin (30/1/2017).

Diharapkan, kata Dwi, groundbreaking kilang Tuban triwulan pertama 2017. Selain kilang Tuban, ada tiga proyek RDMP (Refinery Development Master Plan) yang dikerjakan Pertamina untuk meningkatkan produksi bagan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yaitu RDMP Cilacap, Balongan, Dumai, dan Balikpapan.

Apabila seluruh RDMP ini selesai, maka kapasitas keempat kilang itu akan naik dari 820 ribu bph menjadi 1,61 juta bph. Sebagai informasi, saat ini kapasitas terpasang seluruh kilang Pertamina mencapai 853 ribu barel per hari (bph). Sedangkan kebutuhan minyak Indonesia tercatat sebesar 1,57 juta bph.

Selain itu, 2 kilang baru akan dibangun, yaitu Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan Bontang. Masing-masing berkapasitas 300.000 bph. Semua proyek kilang ditargetkan selesai sebelum 2023. Kalau semuanya berjalan lancar, Indonesia tak lagi mengimpor BBM mulai 2023.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, menjelaskan kilang yang pembangunannya dikerjasamakan dengan investor luar yakni kilang Cilacap dengan Saudi Aramco, dan kilang Tuban dengan Rosneft. Untuk megaproyek lainnya dikerjakan Pertamina sendiri. “Untuk NGRR (New Grass Root Refinery) Tuban Pertamina 55% dan Rosneft 45%. Untuk Cilacap Pertamina 55% dan Saudi Aramco 45%. Untuk pemilihan licensor ini Pertamina mengikuti kesepakatan kedua belah pihak. Jadi sama-sama setuju,” ujar Hardadi.

Dia menjelaskan, penunjukan licensor sendiri diperlukan untuk pemilihan teknologi terbaik, lantaran desain dan konfigurasi kilang berbeda-beda sesuai kebutuhan setiap negara. “Dalam pemilihan ini akan dipilih teknologi yang terbaik dan sesuai. Karena setiap kilang konfigurasinya berbeda-beda. Ini yang jadi pertimbangan licensor, jadi akan akan free competition licensor kelas dunia untuk mendapatkan teknologi terbaik,” pungkasnya ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top