Market

Genjot Vaksinasi, Ekonomi Indonesia Bisa Cepat Pulih Ketimbang Philipina dan Thailand

Karyawan Ikut Vaksinasi/Foto: Anjasmara

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Percepatan vaksinasi menjadi syarat utama untuk mencapai target pertumbuhan 2020 sebesar 5,2 persen. Karena itu, vaksinasi diharapkan bisa selesai pada triwulan I-2022.  Hal itu harus dilakukan karena jika vaksinasi belum mencapai 70 persen hingga 80 persen maka masih terdapat risiko pemulihan ekonomi yang naik turun atau berbentuk W. “Ada risiko pemulihan ekonomi itu bentuknya W, naik turun, naik lagi, turun. Itu yang membedakan antara negara seperti Indonesia dengan Amerika Serikat (AS),” kata Dosen FEB Universitas Indonesia, Muhammad Chatib Basri di Jakarta, Senin, (18/10/2021)

Mantan Menkeu era Presiden SBY ini menjelaskan kondisi AS dengan tingkat vaksinasi di atas 50 persen, Singapura 80 persen, dan Australia 80 persen, memiliki daya pemulihan yang lebih tinggi dibanding Indonesia pada 2022. “Kalau kita lihat proyeksi pertumbuhan ekonomi yang akses vaksinnya luar biasa itu recovery-nya pada 2022 lebih tinggi dari kita. Di bawah Indonesia itu hanya Filipina dan Thailand,” ujarnya.

Lebih jauh Komisaris Bank Mandiri menambahkan jika pemulihan masih berbentuk W shape atau naik turun maka pemotongan pengeluaran tidak dapat dilakukan mengingat pemerintah harus memberikan bantuan perlindungan sosial.

Terlebih lagi jika pandemi semakin merebak sehingga dilakukan pengetatan aktivitas ekonomi maka pemerintah harus terus mendorong masyarakat agar mampu bertahan hingga herd immunity tercapai. “Jadi di dalam periode ini saya melihat yang penting adalah alokasi dana kepada tiga hal yaitu kesehatan, bantuan sosial, dan dukungan kepada UMKM,” ujar Chatib Basri.

Namun begitu, Dede-sapaan akrabnya, bahwa potensi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen bisa tercapai pada 2022, yang akan didorong melalui upaya masif dalam memulihkan dan mengatasi pandemi. “Kalau kita mampu mengatasi pandemi dimana vaksinnya bisa dipercepat sampai triwulan I-2022 maka saya kira target 5,2 persen itu bukan sesuatu yang berlebihan,” pungkasnya. ***

Penulis : Iwan Damiri
Edito     : Chandra

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top