Headline

Frekuensi Penerbangan Surabaya-Banyuwangi Bertambah Bukti Ekonomi Daerah Tumbuh

BANYUWANGI-Bandara Blimbingsari, Banyuwangi
menambah frekuensi penerbangan menjadi empat kali dalam sehari, mulai 30 Oktober 2016. Sebelumnya hanya tiga kali sehari dengan tujuan Surabaya-Banyuwangi. “Penambahan frekuensi ini menunjukkan adanya geliat perekonomian daerah,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam siaran persnya, Senin (17/10/2016)

Lebih jauh Anas memerinci jadwal penerbangan tersebut. Yakni dalam sehari ada penerbangan Garuda Indonesia sebanyak dua kali dan Wings Air sebanyak dua kali Totalnya empat kali dalam sehari. “Pilihan waktunya juga makin lengkap dari pagi hingga sore hari, sehingga memudahkan para wisatawan, dunia usaha, dan masyarakat luas untuk menuju ke Banyuwangi,” ujarnya.

Dengab penambahan frekuensi terbang tersebut, lanjut Anas, akan semakin mendorong perekonomian Banyuwangi ke arah yang semakin baik. Apalagi dalam waktu dekat
terminal baru Bandara Blimbingsari Banyuwangi akan beroperasi, sehingga konsekuensinya frekuensi maupun jumlah penumpang bakal terus meningkat.

Saat ini, terminal baru berkonsep arsitektur hijau dengan nyaris tanpa AC tersebut sedang memasuki tahap akhir dan dijadwalkan akan diresmikan pada awal 2017. “Terminal baru akan menjadi ikon baru yang bisa menarik perhatian wisatawan,” ucapnya.

Dikatakan mantan anggota DPR ini, Blimbingsari adalah terminal bandara berkonsep hijau pertama di Indonesia. “Tanpa AC dengan arsitektur yang sangat unik dan berkarakter,” ujarnya.

Menurut Anas, keberadaan bandara yang mempermudah akses wisatawan dan dunia usaha ikut menggerakkan perekonomian Banyuwangi.

Jumlah penumpang di Bandara Blimbingsari Banyuwangi sendiri terus mengalami peningkatan. Tercatat pertumbuhan penumpang melonjak hingga 1.308 persen dari hanya 7.826 penumpang (2011) menjadi 110.234 penumpang (2015). Hingga Agustus 2016, bandara tersebut telah melayani lebih dari 71.000 penumpang. Sampai akhir tahun, total jumlah penumpang diprediksi sedikitnya 120.000 orang.

Berdasarkan data BPS, pendapatan per kapita warga melonjak 80 persen dari Rp20,8 juta per tahun pada 2010 menjadi Rp37,5 juta per tahun pada 2015. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) naik 85% dari Rp 32,4 triliun (2010) menjadi Rp60,2 triliun (2015). ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top