Infrastruktur

FPKB: ABSAH Efektif Bantu Masyarakat Saat Kekeringan

FPKB: ABSAH Efektif Bantu Masyarakat Saat Kekeringan

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan (ABSAH) merupakan inovasi yang sangat efektif membantu masyarakat yang menderita kekeringan di saat kemarau. Karena itu, Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan jumlah ABSAH di lokasi-lokasi rawan kekeringan.

Demikian disampaikan Anggota Komisi V DPR RI dari FPKB Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Gedung DPR RI, Senayan Jakarta, Selasa (2/2).

“Saya sangat mengapresiasi program Kementerian PUPR berbentuk ABSAH, karena sejak beberapa tahun lalu, saya senantiasa menyuarakan solusi bagi masyarakat yang kerap terkena kekeringan di saat kemarau, sementara cekungan di dalam tanah pun, sudah tidak menampung air lagi. Kondisi ini tidak hanya dialami masyarakat di pegunungan tetapi juga di wilayah pantai. Oleh karena itu, saya sangat mendukung jika program ABSAH ini dapat ditingkatkan dari sisi jumlah maupun nominal,” kata Neng Eem.

Menurut Neng Eem, Kementerian PUPR, khususnya Ditjen SDA juga harus melakukan inovasi untuk mengantisipasi beragam bencana yang diakibatkan oleh terjadinya pemanasan global. Karena dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global ini nantinya juga akan berdampak pada rusaknya daerah-daerah aliran sungai akibat banjir, abrasi, dan bencana lainnya.

“Sekarang ini, bencana yang seringkali terjadi, bukan hanya disebabkan oleh faktor cuaca buruk tetapi juga karena alih fungsi lahan hutan dan pemanasan global. Ke depan, diperlukan strategi yang harus mulai dipikirkan oleh Ditjen SDA. Anggaran untuk OP (Operasi dan Pemeliharaan) sebaiknya tidak hanya dijadikan rutinitas, tetapi juga memberikan solusi dan antisipasi terhadap bencana yang mungkin akan terjadi di kemudian hari,” ungkap Neng Eem.

ABSAH merupakan infrastruktur penyediaan air baku mandiri dengan prinsip kerja menampung air hujan dalam tampungan yang di dalamnya terdapat media akuifer buatan yang tersusun dari kerikil, pasir, bata merah, batu gamping, ijuk, dan arang. Inovasi ini sudah banyak diterapkan oleh Kementerian PUPR di wilayah yang mengalami kesulitan air karena faktor geologi dan iklim, pulau-pulau kecil, dan daerah berair asin seperti Pulau Miangas, Pulau Hiri, Pulau Pasi, dan Pulau Lombok.

Penyaluran padat karya (PKT) ABSAH dilaksanakan melalui pembangunan infrastruktur yang melibatkan masyarakat atau warga setempat sebagai pelaku pembangunan, khususnya infrastruktur berskala kecil atau pekerjaan sederhana yang tidak membutuhkan teknologi. Pelaksanaan PKT harus memperhatikan protokol physical and social distancing untuk pencegahan penyebaran Covid-19.

Dalam Tahun Anggaran 2020, Ditjen SDA Kementerian PUPR telah merealisasikan OP dan PKT tunai dalam bentuk Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi/P3TGAI (10 ribu lokasi), OP irigasi, OP sungai dan pantai, OP air tanah dan air baku, dan ABSAH (57 lokasi).

Program ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 198.476 orang. Sedangkan pada Tahun Anggaran 2021, program PKT tunai dialokasikan sebesar Rp3,35 triliun, terdiri dari 273 lokasi pembuatan ABSAH senilai Rp80 miliar, 10.000 lokasi P3TGAI senilai Rp2,25 triliun, 653 lokasi OP irigasi dan rawa senilai Rp210 miliar, 1.168 OP sungai dan pantai senilai Rp230 miliar, 776 lokasi OP air tanah dan air baku senilai Rp60 miliar, 2.083 OP irigasi dan rawa senilai Rp430 miliar, dan 586 lokasi OP bendungan senilai Rp90 miliar.

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top