Nasional

FPKB DPR: Pendamping Desa Harus Memahami Kehidupan Pedesaan

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Optimalisasi peran pendamping desa akan efektif dan efisien jika mengenal dan memahami desa dan kehidupan masyarakat di pedesaan. Sebab, pemahaman yang baik tentang desa dan masyarakat desa akan membantu para pendamping desa menentukan program-program pembangunan yang tepat sasaran dan tidak menimbulkan resistensi pada masyarakat desa.

Demikian disampaikan Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Kebangkitan Bangsa Komisi V DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz pada acara diskusi publik ‘Optimalisasi Peran Pendamping Desa’ di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/1/2020).

“Pendamping desa wajib mengenal masyarakat desa dan memahami keinginan serta harapan-harapannya. Tidak bisa pendamping desa hanya membawa atau menjalankan program tanpa melakukan adaptasi atau modifikasi sesuai keinginan masyarakat desa dampingannya,” ujarnya.

Karena itu, para pendamping desa yang bukan berasal dari pedesaan seringkali menilai masyarakat desa dan kehidupannya tidak sebaik apa yang dilakukan masyarakat perkotaan.

Padahal lanjut Neng Eem, kalau saja para pendamping desa ini mau belajar mengenali dan memahami kehidupan masyarakat desa, ada banyak nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup serta adat kebiasaan masyarakat desa yang bagus dan harus dilestarikan.

Menurut dia, masyarakat desa memiliki kelebihan, dibandingkan dengan masyarakat perkotaan, pada beberapa hal. Sebagai contoh, masyarakat desa yang pada umumnya terdiri dari satu atau beberapa kekerabatan saja, memiliki pola hidup dan tingkah laku maupun kebudayaan yang sama sehingga menimbulkan rasa tentram, aman, dan tenang.

“Masyarakat desa itu memiliki hubungan kekeluargaan yang akrab, kebiasaan bergotong royong, dan bermusyawarah. Nilai-nilai gotong royong pada masyarakat pedesaan tumbuh dengan subur dan membudaya. Masyarakat desa juga memiliki ikatan sosial yang kuat baik terkait nilai-nilai adat maupun kebudayaan,” tambahnya.

Dimana karakteristik masyarakat desa yang seperti itu harus benar-benar dipahami oleh para pendamping desa. Dalam setiap kelompok masyarakat, tentu ada kelebihan dan kekurangannya. “Semuanya harus dipahami. Kebaikannya bias dieksploitasi, sedangkan kelemahannya direduksi,” kata Neng Eem lagi.

Ketentuan tentang pendamping desa itu diatur dalam Permendes No. 3 Tahun 2016 tentang Pendamping Desa. Meski demikian, menurut Neng Eem, ketentuan tersebut harus diimplementasikan dengan cara yang bijak dengan tetap memperhatikan kondisi masyarakat desa dampingannya.

“Pemberdayaan masyarakat desa oleh para pendamping desa itu harus didasarkan pada kondisi dan situasi masing-masing masyarakat desa. Para pendamping desa harus mampu menjadi penasehat bagi kelompok masyarakat, menjadi pelatih yang pandai mengajak masyarakat untuk berpartisipasi, dan menjadi penghubung diantara masyarakat desa dan antara masyarakat desa dengan dunia luar,” pungaksnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top