Nasional

FPKB DPR Desak Kemenkes RI Tegas pada RSUDAM

JAKARTA, Anggota Komisi IX DPR RI FPKB Hj. Nihayatul Wafiroh memintta Kemenkes RI tegas menghadapi Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandar Lam[pung, jika terbukti menelantarkan jenazah bayi keluarga yang tak mampu.

Seharusnya Kemenkes RI mewajibkan RS untuk menuliskan pasal 29 ayat (1) huruf f (UU No 44 tahun 2009 tentang Kesehatan), yang mewajibkan Rumah Sakit melayani masyarakat tidak mampu.

“Kasus penelantaran jenaazah bayi oleh RSUDAM terhadap keluarga tidak mampu melalui bukti tidak diantarkannya jenazah bayi ke rumahnya dengan ambulans, membuktikan pihak RS tidak menjalankan perintah UU. Ini kesalahan fatal dan tidak boleh terulang,” tegas Wafiroh dalam keterangannya pada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (25/9/2017).

Karena itu dia meminta Kemenkes bersikap tegas terhadap RS yang menelatarkan pasien yang meninggal di Lampung. Dimana seorang ibu akhirnya membawa jenazah anaknya dari RSUDAM dengan naik angkutan umum.

‘Kita masih geram dengan penelantaran pasien bayi Debora oleh RS Mitra Keluarga, dan penelantaran itu sekarang terjadi lagi. Seharusnya Kemenkes RI belajar dari dari kasus-kasus sebelumnya,” ujarnya.

Fakta-fakta itu membuktikan jika Kemenkes RI perlu mengevaluasi RS untuk ditegus, diperingatkan, dishock terapi, dan dijatuhi sanksi agar mematuhi UU.

Sosialisasi UU RS pasal 29 ayat 1 itu penting dituliskan di RS sebagai warning untuk RS agar mematuhi UU. Selain itu untuk perlindungan hukum pasien yang tidak mampu agar mereka berani menuntut haknya. ‘Langkah itu sebagai affirmative action,” tambah Wafiroh.

Menurut Wafiroh dalam kasus penelantaran RSUDAM pada jenazah dari keluarga tidak mampu itu, Kemenkes RI harus tegas dengan menindak RS itu. “Selanjutnya terus sosialisasi terhadap UU RS agar tidak terulang kasus serupaada lagi kasus serupa,” pungkasnya.

Sementara itu RSDUAM telah memutasi seorang perawat bernama Dwi Hartono ke bagian lain. Hal itu menyusul kasus jenazah bayi Ibu Delvasari yang tak diantar ke rumah duka menggunakan ambulans.

“Perawat harusnya mengecek dan memastikan jenazah naik ambulans. Itu tidak dia lakukan. Memang ada alasan yang disampaikan, tapi kami tidak bisa tolerir,” kata Direktur Umum RSUDAM Ali Subaidi, Minggu kemarin.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top