Perbankan

Faisal Basri Kritik Kinerja OJK

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Pengamat ekonomi dari FEB Universitas Indonesia, Faisal Basri mengkritik kinerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dinilai abai melakukan pengawasan terhadap sektor keuangan di Indonesia. Lemahnya penegakan peraturan dan pengawasan oleh OJK menyebabkan terjadinya kasus seperti Asuransi Jiwasraya. “Perusahan asuransi adalah industri yang heavily regulated. Peraturannya sangat ketat. Bahkan sekarang, laporan keuangannya diminta, baik laporan bulan, triwulanan maupun enam bulanan. Pokoknya sangat ketat sekali. Oleh karena itu, ada yang abai,” katanya saat menjadi pembicara webinar bertema ‘Kasus Asuransi Jiwasraya, Kejahatan Korupsi atau Pasar Modal? Dimana Peran OJK’, di Jakarta, Selasa, (15/6/2020).

Faisal menilai, OJK abai dalam mengantisipasi permasalahan sehingga muncul persoalan. Padahal, OJK, telah diberikan kekuasaan penuh oleh Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Kewenangan itu seperti memberikan izin operasi perusahaan asuransi, mengeluarkan izin berbagai produk asuransi, lalu mengawasi perusahaan asuransi, hingga membuat aturannya. Namun sayangnya, jelas Faisal, lembaga superbody ini tidak maksimal menjalankan tupoksinya. “Sudah sepatutnya OJK bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Jiwasraya. OJK juga yang diberikan tugas mengawasi perusahaan asuransi. OJK membuat aturan. Jika terjadi pelanggaran, OJK-lah yang menyidik, menuntut, dan mengenakan sanksi,” tegasnya.

Tidak maksimalnya OJK melakukan pengawasan terhadap Asuransi Jiwasraya membuat banyak masyarakat mulai mempertanyakan eksistensi lembaga superbody di sektor keuangan ini. Apalagi, bukan kali ini saja kejadian tragis menimpa perusahaan asuransi.

Sebelum kasus Asuransi Jiwasraya ini, ada beberapa kasus skandal keuangan yang merugikan banyak orang seperti kasus First Travel, Koperasi Pendawa Depok, kasus PT Minna Padi Asset Management (MPAM), dan lain-lain. “Wajar jika banyak kalangan mulai mempertanyakan keberadaan OJK. Bukan saja kewenangannya terhadap perusahaan asuransi, melainkan juga terhadap perbankan, lembaga keuangan bukan bank, pasar modal, dan fintek,” ujarnya.

Lebih lanjut, Faisal mempertanyakan sikap Kementerian Keuangan yang sampai sekarang belum merealisasikan amanat Undang-undang (UU) Nomor 40 Tahun 2014 yang seharusnya sudah hadir pada Oktober 2017 tentang Perasuransian. Dalam Bab XI Perlindungan Polis, Tertanggung atau Peserta, Pasal 53 ayat 1 menyebutkan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Asuransi Syariah wajib menjadi peserta program penjaminan polis.

Bahkan dalam Pasal 4 UU nomor 40 tahun 2014 juga mengatur mengenai UU sebagai payung hukum program penjaminan polis dibentuk paling lama tiga tahun sejak beleid tersebut diundangkan atau pada 2017. Berdasarkan UU tersebut jelasnya seharusnya program penjaminan polis sudah bisa dirasakan saat ini. Namun sayangnya, aturan yang menjadi payung hukum penjaminan polis itu belum terbit.  “Semestinya Kementerian Keuangan harus berinisiatif membuat naskahnya. Demikian juga DPR,” tuturnya.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan memastikan kondisi industri perbankan saat ini dalam kondisi stabil dan terjaga. Hal ini tercermin dari rasio keuangan hingga April 2020 yang berada dalam batas aman (treshold). Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) misalnya yang masih terjaga di level 22,13 persen. Kemudian kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross 2,89 persen dan NPL net 1,09 persen.

Lalu kecukupan likuiditas dari rasio alat likuid atau non-core deposit dan alat likuid atau Dana Pihak Ketiga (DPK) per April 2020 yang terpantau pada level 117,8 persen dan 25,14 persen. Jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. “Untuk itu OJK mengharapkan masyarakat tetap tenang dan melakukan transaksi perbankan secara wajar. Jika membutuhkan informasi mengenai sektor jasa keuangan bisa menghubungi Kontak OJK 157 atau melalui WA,” pungkas Deputi Komisioner Humas Dan Logistik Anto Prabowo. ***

Sumber: Medcom.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top