Industri & Perdagangan

Eksportir Bali Pusing, Parta Desak Pemerintah Atasi Kelangkaan Kontainer

Eksportir Bali Pusing, Parta Desak Pemerintah Atasi Kelangkaan Kontainer
Kompas.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Anggota Komisi VI DPR RI, I Nyoman Parta mendesak pemerintah segera turun-tangan mengatasi kelangkaan kontainer yang terjadi di Bali. Pasalnya kelangkaan kontainer ini membuat para eksportir produk kerajinan Bali menjadi kebingungan.

“Saya didatangi para eksportir dan mengeluhkan terjadi kelangkaan kontainer yang sudah terjadi sekitar 6 bulan. Kelihatannya negara belum hadir, bahkan terkesan dibiarkan begitu saja,” katanya dalam Raker dengan Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi di Jakarta, Jumat (27/8/2021).

Padahal masa pandemi ini, aktifitas ekspor menjadi andalan utama Indonesia. Sayangnya justru terjadi kelangkaan kontainer. “Saat ini, harga kontainer melambung tinggi sebagai contoh untuk kontainer ukuran 40 feet, harga awalnya Rp125 juta, tapi kini menjadi Rp245 juta.”

“Banyak eksportir merugi. Harga kontainer yang tinggi berdampak pada tingginya biaya pengiriman, sehingga menyebabkan buyer membatalkan maupun menunda pembelian. ”

Sebelum pandemi, kata Anggota Fraksi PDIP ini, aktifitas kegiatan ekspor kerajinan Bali dilakukan melalui Bandara Internasional, I Ngusti Ngurai Rai. “Mereka menitipkan komoditas kerajinan ini melalui pesawat-pesawat asing ke negara-negara tujuan ekspor. Jadi biaya pengirimnya lebih murah,” ungkapnya.

Namun karena ada pandemi, lanjut Parta-sapaan akrabnya, Bandara Internasional Bali ditutup, sehingga para eksportir ini tak bisa mengirimkan barang-barangnya. “Kalau charter pesawat, tentu biayanya sangat mahal. Disisi lain, pesawatnya juga tidak terisi penuh,” ujarnya.

Sementara, kegiatan ekspor melalui laut belum bisa dilakukan. Karena Bali belum memiliki Pelabuhan Ekspor-Impor. Hal ini terkendala karena adanya Permendag 1987 tahun 2005, dimana Pelabuhan Benoa bukan pelabuhan ekspor impor, sebab belum memiliki fasilitas.

Oleh sebab itu, Parta meminta agar Permendag tersebut dievaluasi agar Pelabuhan Benoa, Bali bisa direvitalisasi dan kemudian statusnya menjadi bagian dari pelabuhan-pelabuhan yang bisa membawa
produk-produk tertentu sebagai pintu masuk bisnis ekspor-impor.

Tantangan saat ini, sambung Legislator dari Pulau Dewata, kegiatan bisnis ekspor Bali melalui pintu Pelabuhan Tanjung Perak,Surabaya. “Jadi produk kerajinan batu dan lain-lain semua dibawa melalui jalan darat menuju Surabaya. Perjalanan darat ini penuh resiko, misalnya rentan pecah. Karena menggunakan kontainer. ”

Maka perluasan dan revitalisasi Pelabuhan Benoa harus sekaligus mengubah status untuk ekspor-impor, Permendag 87 tahun 2005 intinya Bali tidak masuk, maka Permendag itu perlu ditinjau agar Pelabuhan Benoa Bali bisa ikut menjadi bagian Pelabuhan-pelabuhan tertentu,
untuk produk-produk tertentu sebagai pintu masuk.

Sementara itu,
Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi merespon soal keluhan kelangkaan kontainer dan Pelabuhan ekspor, Bali. “Jadi begini, masalah kelangkaan kontainer ini adalah persoalan dunia, bukan hanya masalah Indonesia saja,” ungkapnya.

Lebih jauh Luthfi mengungkapkan ketika terjadi perang dagang antara AS-China. Maka terjadi kekacauan yang luar biasa di beberapa pelabuhan, misalnya Ningbau, Senchen, Long Beach dan lain-lainnnya. “Penumpukan-penumpukan kontainer terjadi dimana-mana. Bahkan kalau tidak salah, dari sekitar 425 Kapal, ada sekitar 250 kapal yang mengalami perlambatan akibat kontainer,” terangnya. ***

 

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top