Pertanian

Ekspor Produk Pertanian Ke Inggris Harus Digenjot

Kompas.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Ekspor produk pertanian Indonesia harus digenjot ke Inggris. Alasannya, paska Inggris keluar dari Uni Eropa, maka Indonesia harus bisa mengambil momentum peluang tersebut. “Di tengah kondisi pasca-Brexit dan pandemi Covid-19 ini, para pelaku usaha produk kopi, teh, dan kakao Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang ekspor ke Inggris,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag, Kasan dalam keterangan tertulis, Senin (22/2/2021).

Peningkata produk, seperti Teh, Kopi dan Kakao menjadi peluang bagi pengusaha untuk mengeskpor. Apalagi tren konsumsi ketiganya tetap menunjukkan peningkatan di masa pandemi.

Hanya saja, kata Kasan, peluang tersebut perlu dibarengi tantangan yang perlu dihadapi pelaku usaha di Indonesia untuk bisa mengekspor produknya. Selain hambatan tarif, beberapa hambatan nontarif yang juga perlu diperhatikan yakni isu berkelanjutan (sustainability), lingkungan, serta story telling atau filosofi dari produk yang dipasarkan. “Terkait produk kopi, adanya permintaan sertifikasi perdagangan yang adil (fair trade), berkelanjutan, sistem ketelusuran (traceability), dan organik kerap menjadi hambatan,” ungkapnya.

Lebih jauh kata Kasan, pada komoditi teh hambatannya adalah kandungan kadar antraquinone daun teh melampaui ambang batas 0,02 miligram per kilogram. Sementara hambatan untuk kakao Indonesia adalah kandungan kadar C admium masih melampaui ambang batas 0,5 ppm.

“Tantangan secara umum untuk ketiga produk itu, diantaranya belum maksimalnya inovasi serta ketatnya persyaratan keamanan pangan (food safety), kontaminan makanan (food contaminants), serta pelabelan dan pengemasan (labeling and packaging),” jelas Kasan.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris merangkap Irlandia, Desra Percaya menambahkan, Brexit menjadi salah satu tantangan selain pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai. Kendati demikian, tantangan itu perlu dipandang sebagai peluang bagi Indonesia. “Setiap transisi serta perubahan harus di kawal secara dekat, di kelola dan di manfaatkan bagi kepentingan nasional,” ujar dia.

Ia mengatakan, Inggris saat ini berencana menerapkan aturan due diligence untuk tujuh komoditas kunci yakni kedelai, minyak kelapa sawit, kayu, pulp dan kertas, daging dan kulit sapi, karet, serta kakao. Tujuannya guna memastikan rantai pasokan komoditas tersebut tidak berkontribusi pada deforestasi.

Oleh sebab itu, kata Desra, diperlukan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha untuk mendorong ekspor komoditas asal Indonesia agar tak terhambat aturan due diligence tersebut.

“Sinergi pemerintah dan pelaku usaha sangat penting untuk bekerja sama agar ekspor komoditas unggulan Indonesia, seperti kopi dan kakao, tidak terhambat aturan due diligence maupun hambatan nontarif lainnya,” ungkapnya.

Untuk diketahui, sepanjang 2020 total perdagangan Indonesia-Inggris mencapai 2,23 miliar dollar AS. Pada periode itu, ekspor Indonesia ke Inggris tercatat sebesar 1,28 miliar dollar AS, sedangkan impor dari Inggris sebesar 956,39 juta dollar AS.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia terhadap Inggris surplus sebesar 327 juta dollar AS pada tahun lalu.

Adapun komoditas ekspor utama Indonesia ke Inggris diantaranya produk sepatu, produk kayu, tekstil dan produk tekstil, minyak sawit, kopi, sepeda, serta ban dan kertas.

Sedangkan, produk impor dari Inggris antara lain obat, ferrous scrap, bagian-bagian mesin, bagian elektronik untuk telepon, otomotif, dan mesin pengolah data. ***

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top