Nasional

DPR Minta Aksi Saling Balas dengan Aksi Dihentikan

JAKARTA, Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo meminta saling balas aksi dan demo tandingan dengan pengerahan massa pada 212 dan 412 sebaiknya segera diakhiri. Polri patut menggunakan wewenangnya untuk menghentikan kecenderungan itu, tanpa kompromi. Sebab, sangat berbahaya jika kecenderungan seperti itu dibiarkan berlanjut, karena masyarakat nantinya terkotak-kotak.

Demikian disampaikan Bambang Soesatyo melalui pesan singkatnya pada wartawan di Jakarta, Senin (5/12/2016). “Aksi damai dan doa bersama pada 2 Desember 2016 telah terselenggara dengan baik, bahkan meninggalkan kesan mendalam,” ujarnya.

Sementara itu, Polri telah menindak pihak-pihak yang diduga menunggangi Aksi 212. Kemudian dilanjutkan dengan menangkap, memanggil, dan memeriksa sejumlah orang yang diduga merencanakan makar.
Sedangkan Kejaksaan Agung RI sudah menerima pelimpahan berkas perkara kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI (non-aktif) Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

“Mengacu pada tiga faktor itu, sudah tiba momentum bagi pemerintah, penegak hukum dan semua elemen masyarakat untuk memulihkan kondusifitas atau kenyamanan bersama. Bahwa sudah terlalu banyak energi bersama yang terbuang untuk menyelesaikan beberapa persoalan belakangan ini yang sebenarnya tidak terlalu rumit,” tambah politisi Golkar itu.

Menurut Bambang, aksi pengerahan massa yang direspons dengan aksi serupa tentunya menguras energi dan waktu. Aksi 4 November 2016 direspons dengan kegiatan Apel Nusantara Bersatu.

Aksi 2 Desember 2016 direspons dengan aksi 4 Desember 2016. “Mau sampai kapan aksi berbalas aksi yang tidak produktif ini akan berakhir?” Momentum untuk memulihkan kondusifitas sudah terpenuhi karena Polri telah mengidentifikasi dan mengamankan sejumlah orang yang diduga melakukan makar,” jelasnya.

Itu artinya, kata Bambang, kalau pun benar ancaman makar itu ada, potensinya telah dilumpuhkan. Dengan begitu, saling curiga seharusnya bisa dihilangkan. “Apakah sangkaan Polri terhadap sejumlah orang yang merencanakan makar itu benar adanya, biarlah pengadilan yang mengonfirmasikannya,” ungkapnya.

Bambang menilai, Polri telah mempertaruhkan reputasi dan kredibilitasnya dalam kasus tersebut. “Tentu saja Polri tidak asal melangkah atau bertindak. Soal Polri memeriksa sejumlah orang itu karena sudah memiliki bukti permulaan yang cukup, maka, masyarakat kini hanya perlu menunggu proses pembuktian yang dilakukan oleh Polri,” pungkas Bambang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top