Perbankan

Di Luar Negeri, Bit Coin Jadi Alat Transaksi Teroris

The President Post Indonesia

JAKARTA—Tindak kejahatan terorisme dan narkoba makin canggih dalam perkembangan ke depan. Apalagi kedua kejahatan ini sekarang disokong kemajuan teknologi informasi. Akibatnya terjadi perkawinan dalam kejahatan. “Di luar negeri saat ini berkembang mata uang Bit Coin. Alat transaksi ini tak bisa dilacak melalui situs-situs biasa, sehingga punya tingkat keamananan yang cukup tinggi,” kata Rektor Perbanas Institute Prof Dr Ir Marsudi Wahyu Kisworo di sela-sela diskusi bertajuk “Perkawinan Terorisme dengan Cyber,” Kamis (26/7/2017).

Biasanya situs darkweb ini, kata Marsudi, digunakan para penjahat untuk melakukan transaksi narkoba dan terorisme. Karena transaksinya tidak bisa dilacak melalui google atau perangkat lainnya. Jadi memang situs dark web berbahaya, karena masyarakat biasa bisa mengakses. “Makanya tindakan blokir tidak efektif, karena tidak ada fungsinya juga. Intinya ini tergantung dari mentalitas dan pendidikan masyarakat,” tambahnya.

Perkembangan situs web gelap (dark web), lanjut Marsudi, sangat cepat. Sehingga sangat mengkhawatirkan. Karena menjadi pilihan baru bagi para teroris untuk melakukan aksinya setelah pemerintah memblokir situs web Telegram. “Dulu susah untuk masuk ke dark web, tapi sekarang gampang masuknya dan ini banyak digunakan jaringan teroris,” ujarnya.

Bahkan Marsudi mengatakan untuk membuat pasport dengan berbagai kewarganegaraan bisa dilakukan dengan dark web tersebut sehingga membuat pihak keimigrasian kesulitan untuk menghadapinya. Apalagi konten web gelap itu tidak saja berisi cara perakitan dan pembuatan bom, tapi juga berisi tayangan video berupa tutorial soal radikalisasi. Bahkan melalui web tersebut, juga bisa dilakukan transaksi dengan menggunakan bitcoin, atau nilai tukar yang tidak bisa terlacak secara fisik sehingga aparat keamanan kewalahan untuk memberantasnya.

Sementara itu, Kasubdit Penyidikan dan Penindakan Kemenkominfo, ‎Teguh Afriadi‎ juga mengakui bahwa kelompok teroris selama ini banyak menggunakan aplikasi telegram dalam menjalankan akitivitasnya. Untuk itu dia menyatakan bahwa pemerintah akan terus berupaya menekan berkembangnya aplikasi yang memungkinakn teroris bisa dengan leluasa melakukan serangan termasuk melalui dark web yang mulai dikhawatirkan.

Hanya saja dia mengakui mendapat ancaman dari teroris pascapemblokiran aplikasi Telegram. Dia menyebutkan para teroris akan selalui mencari celah-celah yang bisa dimamfaatkan untuk melakukan serangan termasuk melalui dark web. “Banyak sekali di Telegram, ada sekitar 54 channel, (yang) spesifik diajarkan bagaimana merakit bom, serang target, semua lengkap,” ujar Teguh dalam diskusi itu.

Menurutnya, dalam Telegram para pelaku teror menyebar daftar nama pejabat negara yang dijadikan target penyerangan. “Bagi pelaku lone wolf, di sana ada daftar nama pegawai lengkap siapa yang jadi targetnya, foto-fotonya,” ujarnya. Teguh sendiri mengaku sempat menerima ancaman dari akun tidak dikenal usai resmi memblokir Telegram pada Jumat (14/7/2017) lalu. “Dua hari setelah itu, mereka (teroris) marah, Kominfo disebut ikut bagian dari thogut, halal darahnya ditumpahkan. Ini ancaman,” ujarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top