Nasional

Dari Generasi Muda Diharapkan Muncul Aji Saka Baru di Nusantara

BANDUNG- Keteladanan seorang pemimpin di masa lalu dapat memberikan proses penguatan nilai-nilai kebangsaan. Salah satunya keteladanan Aji Saka (Raja Saka) yang berasal dari Jambudwipa (India) dari suku Shaka (Scythia).

Kehadiran Aji Saka dinilai telah membawa peradaban, tata tertib dan keteraturan budaya Jawa hingga saat ini. “Mudah-mudahan dari forum ini melahirkan Aji Saka-Aji Saka di Nusantara,” kata Haeruddin saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Universitas Sangga Buana, Bandung, Jawa Barat, Senin (21/8).

Keteladanan Aji Saka yang memiliki gelar Prabu sengklang Sangga Buana diceritakan Haeruddin di hadapan ratusan mahasiswa karena generasi muda saat ini banyak yang melupakan sejarah perjuangan pemimpin-pemimpin bu kan hanya di jaman pergerakan kemerdekaan tetapi juga di jaman kerajaan.

Kisah Aji Saka itu, menurut Haeruddin seharusnya bisa menjadi teladan bagi generasi tentang perjuangan seorang pemimpin yang mengawali pembentukan masyarakat sebagai raja pertama di Pulau Jawa. Sekaligus menciptakan tarikh Tahun Saka atau raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa.

“Jika sebuah bangsa tercerabut akar nilai-nilai dasarya, maka bersiaplah akan menghadapi pada kematian. Hari ini. Bangsa Indonesia sedang menghadapi ancaman tercerabut dari akat nilai-nilai dasarya,” ingatnya.

Hal lain yang juga ditekankan anggota MPR dari daerah pemilihan Jawa Barat ini adalah kondisi darurat narkoba. Narkoba telah banyak membunuh banyak orang. Dalam catatannya, sebanyak 5 juta orang terkena obat-obat terlarang dan sebanyak 50 orang mati dalam sehari karena narkoba.

Yang membuatnya prihatin, sasaran utama narkoba adalah generasi muda. “Narkoba telah membunuh generasi muda. Mudah-mudahan mahasiswa yang ada di sini bersih dari narkoba,” tegasnya.

Faktor lain yang menyebabkan bangsa ini tercerabut dari akarnya adalah karena melupakan sejarah. Padahal untuk menjadi sebuah negara, perlu proses waktu yang panjang. “Indonesia tidak serta merta menjadi sebuah bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Sangga Buana, Asep Effendi, mengakui ada gejala menurunnya pemahaman dan nilai kebangsaan. “Allhamdulillah, kampus ini mencoba terus mengimplimentasikan Empat Pilar lewat Ospek dan kegiatan Menwa,” paparnya.

Menurunnya paham dan nilai kebangsaan, menurutnya tak selayaknya kita menyalahkan pihak lain. Saat ini diakui ada orang yang tak hafal sila-sila Pancasila. “Inilah yang kami anggap memprihatinkan,” katanya.(nto)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top