Market

Dana Nganggur Ribuan Triliun Jadi Sorotan DPR

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Banyaknya dana masyarakat yang mengendap, alias menganggur di perbankan hingga mencapai Rp1.200 Triliun menjadi sorotan DPR. Saat ini masyarakat atau nasabah lebih memilih memarkir dananya di perbankan ketimbang untuk membuka usaha. “Aktivitas bisnis saat ini belum kondusif, alias masih terhambat, sehingga banyak UMKM yang bangkrut. Hal ini karena adanya PSBB, sehingga ruang gerak UMKM belum prospektif
”, kata Anggota Komisi VI DPR Mukhtarudin kepada wartawan di Jakarta, Selasa (1/12/2020).

Berdasarkan catatan, loan to deposit ratio/LDR pada Oktober 2020 ini cukup longgar, yakni pada level 82,79%. Sedangkan, pada kondisi normal sebelum pandemi, LDR bank berada di level 92%. Sehingga, ada selisih sekitar 10%. “Besarnya LDR tersebut, mengindikasikan bahwa masyarakat masih terpukul aktivitas bisnisnya karena efek Covid-19,” ujarnya.

Padahal, kata Politisi Golkar, dalam kondisi normal, negara-negara yang mengalami kenaikan simpanan, maka bank sentral akan memangkas lebih besar lagi suku bunga acuannya, agar insentif menabung berkurang & Deposan beralih ke sektor riil. “Karena kondisi darurat, maka pertumbuhan kredit tidak bagus, baik buat debitur maupun perbankan, dampak jauh nya maka potensi kredit macet sangat tinggi,” terangnya lagi.

Mukhtarudin meminta, perbankan harus bisa mendorong dan memudahkan penyalurankredit pada sektor-sektor yang masih tumbuh positif hingga saat ini. Antara lain, sektor informasi dan komunikasi, pertanian, administrasi pemerintahan, jasa pendidikan, real estate, jasa kesehatan dan pengadaan air,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Sunarso mengakui pandemi Covid-19 menyebabkan permintaan kredit baru mengalami kontraksi.
Sampai Oktober 2020, kredit perbankan hanya tumbuh 0,47% menjadi Rp 5.480 triliun. “Meski begitu trennya terus membaik mulai dari September dan tumbuh 0,12% atau mampu menyalurkan kredit senilai Rp5.531 triliun,” ungkapnya.

Sunarso optimis dengan adanya sejumlah stimulus dari pemerintah, termasuk sektor UMKM yang diperkirakan bakal pulih lebih cepat ketimbang sektor korporasi. “Ketika pembatasan sosial dan aktivitas dilonggarkan sedikit, maka akan cepat pulih. Malah yang harus diwaspadai adalah segmen menengah dan korporasi, saya tak yakin bisa cepat pulih. Karena ini cukup parah terimbas Covid-19,” pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top