Perbankan

Dampak Corona, Perbankan Perlu Cermati Keluhan UMKM Pariwisata

Deddy Yevri Hanteru Sitorus

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Kalangan DPR minta industri perbankan memperhatikan keluhan para pengusaha UMKM pariwisata. Karena saat ini industri pariwisata diprediksi mengalami kerugian yang cukup hingga mencapai sekitar Rp7 Triliun.

“Memang Wabah Corona ini bukan seperti bencana alam, seperti gempa bumi. Sehingga UMKM yang terkena, langsung berhenti. Namun kalau sudah mempengaruhi industri tentu tak bisa diremehkan,” kata anggota Komisi VI DPR Deddy Yevri Hanteru Sitorus kepada Suarainvestor.com di Jakarta, Rabu (3/3/2020).

Lebih jauh Deddy, meminta agar perbankan terus melakukan mitigasi terkait wabah penyakit tersebut. “Bagaimanapun juga, tren dan kecenderungan ke depan harus terus dipantau. Sejauhmana UMKM ini terdampak dari wabah Corona. Pihak perbankan tentu akan melihat juga soal NPL-nya (non performance loan),” tambahnya.

Ditanya soal UMKM yang meminta kelonggaran kredit,
Legislator asal Kaltara mengaku kalau memang dampak wabah penyakit ini ternyata cukup panjang, maka potensi untuk restrukturisasi utang UMKM bisa dipertimbangkan. “Bisa saja, kita dorong agar pembayaran utang UMKM ini bisa saja direschedul,” terangnya.

Namun untuk jangka pendek ini, kata anggot Fraksi PDIP, pemerintah sudah memberikan kebijakan diskon tiket pesawat hingga 30% untuk tujuan daerah wisata. Tak hanya itu, tarif pajak hotel dan restoran diubah menjadi 0 (nol) persen. “Kebijakan ini memang untuk mendorong agar pariwasata lokal tetap tumbuh. Sehingga tidak menurun drastis.

Dengan cara ini, maka industri pariwisata tetap bisa bertahan dari gempuran wabah Corona. “Saya mengapresiasi kebijakan pemerintah yang cepat mengambil keputusan. Apalagi UMKM ini merupakan salah satu penopang ekonomi nasional,” imbuhnya.

Sebelumnya, Industri perbankan mengantisipasi kenaikan risiko kredit (loan at risk/LaR) akibat wabah virus corona.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Herry Sidharta mengatakan wabah virus Corona dalam jangka pendek akan berpengaruh pada sektor pariwisata Indonesia. Turis dari China merupakan salah satu kontributor wisatawan mancanegara ke Tanah Air. “Kami tetap yakin [risiko terjaga], terlebih karena langkah-langkah preventif yang sudah dilakukan oleh para pihak terkait guna memerangi wabah virus Corona,” katanya.

Herry menyampaikan, perseroan terus memonitor perkembangan dampak wabah dari Virus Corona pada bisnis kredit di BNI. Termasuk mengambil langkah corrective action bersama-sama dengan debitur sebagai mitigasi risiko.

Di sisi lain, kata Herry, Kementerian Pariwisata juga terus mendorong peningkatan jumlah turis domestik serta bersama-sama dengan Kementerian Perhubungan berusaha mengantisipasi penurunan kunjungan turis asing dari China dengan menambah frekuensi atau tambahan rute dari luar negeri non China ke Indonesia [sehingga harapannya tidak berdampak pada penurunan kinerja],” tuturnya.

Kucuran kredit dari BNI pada sektor pariwisata melingkupi akomodasi, restoran, angkutan udara, serta jasa perjalanan. Total kredit yang dimiliki pada sektor ini tercatat sebesar Rp18,2 triliun hingga akhir 2019. Herry mengatakan LaR terkait sektor juga terjaga stabil di single digit.

Pada kesempatan berbeda, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Tigor M. Siahaan mengatakan hingga saat ini portofolio kredit ke sektor pariwisata masih terjaga aman.

Meskipun begitu, perseroan akan selalu waspada dan melakukan kajian menyeluruh ke sektor tersebut.
“Kami lihat sejauh ini portofolio [ke sektor pariwisata] kami masih oke, tapi apakah ini [wabah virus corona] akan berlangsung selama sebulan, 2 bulan, 6 bulan? Kita tidak tau. Jadi kami masih melihat dan terus melakukan kajian,” katanya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top