Market

Cegah Resesi, Apindo: Percepat Realisasi Stimulus UKM

Sutrisno Iwantono/hukumonline.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Pemerintah harus benar-benar menggenjot anggaran belanja agar pertumbuhan ekonomi tidak minus. Harapannya hanya itu, agar Indonesia tidak terdampak resesi yang muncul dari Singapura. “Pengeluaran pemerintah dipercepat, sekarang ini realisasi belanja pemerintah masih lambat, APBN Perubahan 2020 itu besarnya sekitar Rp2600 triliun, tapi yang terealisasi baru sekitar Rp840 triliun pada bulan Mei 2020, artinya baru sekitar 30 persen,” kata Ketua Kebijakan Publik APINDO, Sutrino Iwantono¬† di Jakarta, Rabu (22/7/2020).

Menurut Sutrisno, belanja pemerintah merupakan peransang bagi kegiatan ekonomi nasional. Demikian juga stimulus-stimulus realisasinya masih lambat. Jadi wajar, Presiden Jokowi sempat marah karena anggaran kesehatan saja lambat sekali. “Karena pertengahan Juni 2020 lalu baru mencapai 1,54%. Sekarang harapannya lebih cepat,” ujarnya.

Hal yang sama juga terjadi pada stimulus-stimulus lain, kata Managing Director Institue of Developing Economies and Entrepreneurship, malah untuk realisasi UKM baru mencapai sekitar 22 persen, jadi masih sedikit sekali. Bahkan untuk korporasi paling lambat waktu Juni itu masih nol persen,” tambahnya.

Dengan mempercepat belanja, maka lanjut Sutrisno lagi, pertumbuhan pada Kuartal III 2020 akan lebih baik dari Kwartal II. “Kwartal II memang paling parah, menurut Bank Indonesia Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Trimester II kemarin minus sampai 35 persen,” ucapnya.

Founder Iwant & Co Antimonopoly Counselor and Competition Academy ini memprediksi sejumlah alasan bahwa Trimester III-2020 akan lebih baik dari Trimester II. Pertama pemerintah akan mempercepat realisasi anggaran yang masih lambat, mau tidak mau anggaran harus dibelanjakan. Yang kedua juga dengan stimulus ekonomi yang realisasinya masih sangat lambat.

“Sekarang dana stimulus meningkat menjadi Rp695 triliun lebih. Tetapi realisasinya masih sangat rendah. Pasti bulan-bulan ini dan kedepan akan digenjot. Dua hal ini tentu akan menyumbang agar ekonomi tidak jatuh lebih lanjut,” teragnya.

Selain itu, lanjut Mantan Ketua KPPU ini, langkah Bank Indonesia melonggarkan likuiditas sektor perbankan membawa angin segar, apalagi BI sudah menggelontorkan sekitar Rp633 triliun untuk industri perbankan. “Walaupun dana itu tidak otomatis masuk ke kantong rakyat, namun paling tidak, tekanan kepada sektor keuangan bisa lebih rilek,” paparnya.

Lebih penting lagi adalah, sambung Sutrisno, langkah penanganan Covid 19 harus cermat, karena sumber persoalan di situ, ekonomi terdampak. “Kalau Covid 19 tidak tertangani dengan baik, maka harapan ekonomi melaju dengan cepat, saya kita akan sulit. Jadi kalau saya katakan Trimester III lebih baik, itu tidak berati ekonomi kembali seperti semula, lebih baik hanya bila dibanding Trimester II,”pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top