Perbankan

BI: Pertumbuhan Kredit Perbankan 2021 Bisa Capai 9%

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM–Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan kredit perbankan akan pulih pada 2021. Alasannya, pandemi Covid-19 telah memukul kinerja kredit perbankan, sehingga menyebabkan anjloknya permintaan kredit. “Dimana pertumbuhan kredit pada 2021 dapat mencapai 7 persen sampai 9 persen,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (3/12/2020).

Berdasarkan data OJK, pertumbuhan kredit perbankan mengalami kontraksi sebesar 0,47 persen (yoy) per Oktober 2020. “Kita terus mendorong kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran untuk mengatasi kredit,” terangnya.

Menurut Perry, proyeksi tersebut didasarkan pada beberapa hal, meliputi penawaran kredit perbankan tetap kondusif dengan suku bunga menurun, likuiditas melimpah, lending standard membaik, dan restrukturisasi kredit yang diperpanjang oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Berbagai hal tersebut sejalan dengan membaiknya penjualan dan kemampuan bayar korporasi besar.

Perry pun menjelaskan, hingga saat ini ada empat subsektor dengan kredit meningkat dan plafon kredit masih tersedia, yakni industri makanan minuman, telekomunikasi, logam dasar dan kulit alas kaki.

Selain itu ada enam subsektor membutuhkan usaha dari pemerintah agar plafon kredit yang tersedia di perbankan dapat dimanfaatkan. Keenam subsektor tersebut adalah tanaman dan hortikultura industri tembakau, industri kayu, industri kimia, industri barang galian bukan logam, dan industri barang dari logam. “Sementara itu delapan subsektor memerlukan penjaminan dan subsidi bunga dari pemerintah untuk mengatasi persepsi risiko dalam penyaluran kredit,” katanya.

Ke delapannya yakni, kehutanan, tanaman pandan, real estate, tanaman perkebunan, industri TPT, industri mesin, pertambangan bijih logam, dan industri furniture.

Perry pun mengatakan, BI akan terus melanjutkan kebijakan moneter, dengan mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit yang masih memiliki potensi di tengah pandemi. Dengan kolaborasi kebijakan fiskal dan moneter, ekonomi nasional akan bisa pulih ke depan. “Stimulus fiskal dan moneter perlu mempertemukan antara perbankan dan dunia usaha untuk mengatasi asimetri information dan persepsi risiko dalam penyaluran kredit,” pungkasnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top