Perbankan

BI : Perlu Antisipasi Inflasi Akibat Kemarau Basah

SURABAYA-Bank Indonesia mengungkap pemicu deflasi pada indeks harga konsumen Agustus 2016 sebesar 0,02 persen secara bulanan terjadi karena masing-masing kelompok makanan bergejolak (volatile food).

Begitupun dengan kelompok tarif yang diatur pemerintah (administered prices) terjadi koreksi harga setelah Idul Fitri. “Penurunan harga secara bulanan tersebut terutama bersumber dari koreksi harga komoditas daging ayam ras, wortel, bawang merah, beras, dan daging sapi,” kata
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara di Jakarta.

Menurut Tirta, deflasi pada kelompok makanan bergejolak (volatile food/VF) termasuk pangan, sebesar 0,8 persen secara bulanan lebih besar dibanding deflasi ada tarif yang diatur pemerintah (administered prices/AP) sebesar 0,52 persen.

Dari catatan BI, kelompok yang diatur pemerintah, koreksi utamanya terjadi pada tarif angkutan antarkota, angkutan udara, dan tarif kereta api. Penurunan tersebut terjadi seiring berakhirnya masa arus mudik dan balik Lebaran 2017.

Sementara, pandangan BI menyebutkan inflasi inti cukup rendah yaitu sebesar 0,36 persen secara bulanan atau 3,32 persen secara tahunan.

Lebih jauh Tirta menjelaskan rendahnya inflasi inti disebabkan permintaan domestik yang masih terbatas, terkendalinya ekspektasi inflasi, dan relatif stabilnya nilai tukar rupiah. “Ke depan, inflasi diperkirakan semakin terkendali dan berada pada sasaran inflasi 2016, yaitu empat persen plus minus satu persen,” ujar Tirta.

Tirta menjamin BI dan pemerintah akan memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi tekanan inflasi akibat dampak fenomena musim kemarau basah La Nina. 

BI dan pemerintah ingin fokus pada upaya menjamin pasokan dan distribusi, khususnya berbagai bahan kebutuhan pokok, dan menjaga ekspektasi inflasi. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top